Mendaki Gunung Raja Basa

Januari 11, 2009

pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan karena begitu menarik, saaayang saya tidak bisa menampilkan foto-foto saaya pada saat itu, karena foto-fotonya ada di Bandar Lampung.

kalian tahu mengapa itu begitu menarik, karena Gunung Raja Basa yang berada di Kalianda, Lampung ini memiliki sesuatu yang khas. dikaki gunung ada pemandian air panas yang mengandung belerang (sudah dikelola), di petengahan/badan gunung ada lapangan belerang yang mungkin luasnya sekitar 600meter persegi, oukh……… super bau, but menarik, ditengah lapangan belerang itu ada lubang yang sudah tutup dengan papan oleh penduduk, bila kita dekatkan telinga kita ke lubang itu, kita bisa mendengar suara air mendidih, air panas alami……….. menarik bukan. dan kalian tau……?

di gunung itu masih banyak lahan yang alami, kita masih bisa menemukan daerah yang benar-benar teduh karena pohon-pohonnya begitu besar sekalipun ditengah siang hari, bashkan kita tidak tahu apakah itu siang atau sore. kita masih bisa menemukan embun didaunan pada saat siang hari, menemukan pola tumbuhan lumut yang hanya tumbuh disatu sisi pohon, menemukan hewan yang ukurannya begitu besar. saya melihat cacing tanah yang panjangnya 25 cm, kelabang yang kira-kira lebar badannya 2cm dan panjang 30 cm, dan yang pasti banyak pacet. pengalaman pertama saya digigit pacet……… oh teman, kalau kalian tau rasanya, kalau kalian mengalaminya, semua itu begitu menarik, kalian boleh coba……… ga nyesel deh,

kegiatan saya saat ini

Januari 11, 2009

setelah saya tinggal di Palembang, selain honor mengajar di SMA Negeri tiga, saya sempat mengajar di Bimbel Prisai Sains selama empat bulan dan selama dua bulan terakhir saya dipercaya untuk memengang jabatan sebagai kepala bagian kurikulum, tetapi itu tidak lama karena saya mengundurkan diri, dengan alasan saya ingin mengikuti perkuliahan lagi. dan pada satu kesempatan saya ikut tes untuk masuk kuliah di Pascasarjana UNSRI, Alhamdulillah saya lulus………… dan saat ini saya masih menjalani kuliah saya aan tetap menjadi guru di SMA Negeri 3.

Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Januari 11, 2009


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 {size:612.1pt 792.1pt; margin:85.05pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:348024428; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-731596918 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l1 {mso-list-id:873536935; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2101843832 134807565 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l2 {mso-list-id:1034038420; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1122668138 134807563 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:”Courier New”;} @list l3 {mso-list-id:1106534804; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1549128764 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1184635252; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1252105650 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1368680424; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:840440544 134807577 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l6 {mso-list-id:1726878491; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-292810744 134807567 -2013734766 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l6:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:102.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:102.0pt; text-indent:-48.0pt;} @list l7 {mso-list-id:2119641234; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:2040953680 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l7:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Judul : PEMBANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Pengarang : EMIL SALIM

Penerbit : LP3 ES ; 1986

BAGIAN I

Manusia dan Lingkungan Hidupnya

Pembangunan dengan Pengembangan Lingkungan Hidup

I. Tantangan Permasalahan Pembangunan

Hakekat pembangunan

adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.

Artinya pembangunan mencakup :

  1. kemajuan lahiriah ( ex; sandang, pangan, perumahan )
  2. kemajuan batiniah ( ex; pendidikan, rasa aman, rasa keadilan, rasa sehat )
  3. kemajuan yang meliputi seluruh rakyat sebagaimana tercermin dalam perbaikan hidup berkeadilan sosial.

Empat factor yang dapat menimbulkan permasalahan dalam pembangunan :

  1. Perkembangan penduduk dan masyarakat;
  2. Perkembangan sumber alam dan lingkungan;
  3. Perkembangan teknologi dan ruang lingkup kebudayaan;
  4. Perkembangan ruang lingkup internasional.

Ciri-ciri dari perkembangan penduduk kita adalah bahwa :

  1. Jumlah penduduk semakin bertambah
  2. Bagian besar penduduk kita berusia muda
  3. Penduduk tidak tersebar merata antara pulau-pulau
  4. Besarnya penduduk yang memperoleh pendapatan dari sector pertanian.
  5. Meningkatnya penduduk yang masuk pasar kerja, sedangkan tawearan pekerjaan tidak naik secepat yang meminta kerja

Secara umum tampaklah bahwa hal pokok yang perlu untuk menjawab tantangan pembangunan terletak pada perombakan struktur ekonomi Indonesia, yang terlalu berat pada pertanian dan pengolahan bahan mentah, berorientasi ke luar dan peka terhadap gejolak perubahan harga di pasaran dunia.

Orientasi pembangunan pada pemerataan pendapatan mengharuskan bahwa perubahan struktur ekjonomi dilakukan dengan meningkatkan pendapatan kelompok miskin.

Kondisi sumber alam dan lingkungan hidup mengharuskan agar pembangunan berjalan seiring dengan pengbembangan lingkungan hidup[ ( eco development ). Kemiskinan adalah sebab dari kerusakan lingkungan, maka pembangunan menghalau kemiskinan bisa berjalan seiring dengan perbaikan lingkungan hidup.

Pola pembangunan dengan pengembangan lingkungan hidup, memerlukan pengetatan dalam penggunaan air dan tanah,, serta sumber alam lainnya. Saingan dalam penggunaan air, tanah, dan sumber alam mungkin tidak dapat dipecahkan melalui mekanisme pasar, sehingga campur tangan pemerintah diperlukan. Ini berarti bahwa bagi sumber alam yang semakin langka, pengendalian pemerintqah akan semakin menonjol.

Dalam pembangunan mengandung perubahan besar. Perubahan struktur ekonomi, perubahan struktur sosial, perubahan fisik wilayah, perubahan pola konsumsi, perubahan sumber alam dan lingkungan hidup, perubahan teknologi, perubahan system nilai dan kebudayaan.

II. Tantangan Permasalahan Lingkungan Hidup

Energi asal matahari menjadi penggerak system kehidupan semua mahluk hidup. Mahluk hidup terdiri dari materi yang berasal dari bumi. Materi-materi ini terdiri dari unsur-unsur kimia. Dalam tubuh manusia ditemukan unsur-unsur kimia seperti oksigen (65%), karbon (18%), hydrogen (10%), nitrogen (3,3%), kalsium (1,5%), fosfor (1%), dan unsur-unsur kimia lainnya.

Bermacam-macam siklus dalam kehidupan memungkinkan perpindahan unsur-unsur kimia larut masuk ke tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, dan dengan begitu dapat terjadi perpindahan energi sebagai sumber kehidupan alam. Berbagai siklus dan rantai makanan melibatkan seluruh isi alam, baik yang hidup maupun yang mati, dan menjadikan satu system yang dinamakan “ekosistem”. Dalam ekosistem ini terdapat lingkungan biotic, memuat organisme yang hidup dalam lingkungan, dan lingkungan biotic yang memuat berbagai hal seperti cahaya, suhu, tanah, air, udara, zat kimia, dan lain-lain benda mati namun menghidupkan.

Jika semula kita kenal tahap “manusia dikuasai lingkungan alam”, maka tahap berikutnya ialah “manusia menguasai alam”. Kini perlu dikaji orientasi baru dimana manusia hidup dalam hubungan keselarasan dengan lingkungan hidup, ini berarti menegakkan hubungan keselarasan manusia dengan lingkungan alam, keselarasan manusia dengan masyarakat, dan keselarasan manusia dengan Tuhan YME. Reorientasi penglihatan manusia dalam hubugan dirinya dengan lingkungan hidup sangat perlu untuk mengakhiri perkembangan sains, ilmu dan teknologi yang mengikuti jalur perkembangan selama 200 tahun terakhir ini. Ini berarti perkembangan manusia untuk tumbuh selaras dengan perkembangan lingkungan.

Akibat tekanan penduduk, maka lingkungan hidup mengalami tekanan perubahan. Hutan perlu ditebang untuk memberi tempat bagi pemukiman, sungai perlu dimanfaatkan untuk keperluan manusia, dan seterusnya. Yang berbeda dalam pandangan masa sekarang dengan pandangan masa lampau ialah, bahwa perkembangan lingkungan secara sadar diperhitungkan pengaruhnya kepada manusia. Sejauh mungkin diusahakan perubahan yang merombak seminimal mungkin stabilitas lingkungan hidup. Dan bila pun perubahan terjadi, maka fungsi lingkungan yang akan hilang disubstitusikan dengan cara lain sehingga lingkungan hidup tetap berfungsi utuh. Penerapan system biologis akan banyak membantu usaha memanfaatkan lingkungan tanpa kerusakan lingkungan yang besar. (ex;) penggunaan cacing yang sengaja dibiakkanuntuk memusnahkan sampah.

Satu ciri yang menonjol, bahwa pertimbangan lingkungan sudah dari semula ikut diperhitungkan dalam setiap langkah pembangunan. Maka pengembangan lingkungan, mencakup baik ikhtiar menanggulangi akibat pembangunan yang berupa kerusakan lingkungan maupun usaha mengembangkan lingkungan bersamaan dengan pembangunan. Sehingga lahirlah orientasi pembangunan dengan pengembangan lingkungan atau eco-development. Maka segala perkembangan sains, ilmu tekniologi yang menunjang pembangunan dikuasai oleh semangat dan keperluan menumbuhkan proses “eco-development” ini.

Untuk memberi isi kepada garis kebijaksanaan pembangunan dengan pengembangan lingkungan ini, maka Repelita III menggariskan empat pendekatan pokok, yaitu :

ü Pendekatan masalah lingkungan dari sudut kependudukan (ex; jumlah & pertambahan penduduk)

ü Pendekatan masalah lingkungan dari sudut sektoral (ex; sector pertanian)

ü Pendekatan masalah lingkungan dari sudut media lingkungan (ex; tanah, air)

ü Pendekatan masalah lingkungan dari sudut unsur-unsur penunjang (pendidikan, pembinaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan & teknologi)

Kebijaksanaan Pengembangan Lingkungan Hidup

Ada beberapa pokok dari kebijaksanaan ini yang dijabarkan lebih lanjut dalam sembilan sektoral :

  1. Penduduk, Pemukiman dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  2. Pembangunan Pertanian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  3. Industri, Pertambangan dannergi serta Pengelolaan Lingkungan Hidup
  4. Pemilikan dan Penguasaan Tanah, Tataguna Tanah, Tataguna Air, Tataguna Ruang dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  5. Pembangunan Prasarana dan Pengelolaan Lingkungan
  6. Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Lautran dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
  7. Pengaturan Biaya Pembangunan Lingkungan Hidup
  8. Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pengelolaan Sumber Alam dan Lingkungan Hidup
  9. Pembinaan hokum dan aparatur dalam Pengelolaan Sumber Alam Lingkungan Hidup

III. Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air

Dalam pengelolaan sumber alam, benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negative terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber alam agar bisa digunakan terus-menerus sambung-sinambung untuk generasi-generasi di masa depan. Kebijaksanaan pengembangan lingkungan ini tertuju kepada empat sasaran, yaitu :

Ø Membina hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan

Ini adalah bagian dari tujuan pembangunan untuk membina manusia Indonesia seutuhnya.

Ø Melestarikan sumber-sumber alam agar bisa dimanfaatkan terus-menerus oleh generasi demi generasi

Ø Mencegah kemerosotan mutu dan meningkatkan mutu lingkungan sehingga menaikkan kualitas hidup manusia Indonesia

Ø Membimbing manusia dari posisi “perusak lingkungan” menjadi “pembina lingkungan”.

Penyelamatan hutan, tanah, dan air. Untuk mengetasi ketidakseimbangan lingkungan, maka prioritas utama diletakkan pada penyelamatan hutan, tanah dan air, mencakup lima usaha, seperti:

o Peningkatan mutu pengusahaan hutan

o Reboisasi dan penghijauan

o Pengembangan daerah aliran sungai

o Pencegahan kerusakan laut beserta sumber daya hayatinya

o Pengembangan taman nasional

Antara manusia, tumbuhan, binatang, mahluk isi alam lainnya, suhu, keadaan cuaca, udara dan lain-lain, terdapat hubungan timbal balik yang membentuk suatu ekosistem. Maka pertumbuhan manusia sangat dipengaruhi oleh sifat keadaan ekosistem yang melingkupinya. Pembangunan membuka kemungkinan perubahan keadaan lingkungan. Dalam proses perubahan ini penting dipelihara keselarasan antara manusia denmgan ekosistem dalam rangkaian kurun waktu dalam gerak yang dinamis.

Disamp[ing hutan lindung dan PPA, terdapat pula hutan produksi yang dapat diusahakan. Dalam kawasan hutan produksi (seluas 4 Ha) Hak Penguasaan Hutan (HPH) diberikan Departemen Pertanian kepada pengusaha Negara atau perseroan terbatas swasta dan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) oleh Gubernur kepada penduiduk setempat.

Tanah air Indonesia dengan luas daratan 202,7 juta hectare mempunyai curah hujan tinggi, antara 700 – 7.000 mm setahun dan penguapan antara 1.200 – 4.000 mm setahun, sehingga Indonesia tergolong dalam kelompk tanah air yang relatiF “basah”. Menurut potensi sumber-sumber airnya, Indonesia terbagi dalam tiga bagian besar :

a. Wilayah dengfan potensi rendah, kurang dari 10.000 m3 per jiwa setahun, meliputi pulau Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara Barat serta Nusa Tenggara Timur.

b. Wilayah dengan potensi sedang, antara 10.000 – 100.000 m3 per jiwa setahun, meliputi pulau Sumatera, Sulawesi dan Maluku

c. Wilayah dengan potensi tinggi, lebih dari 100.000 m3 perjiwa setahun, meliputi pulau Kalimantan dan Irian Jaya.

Air yang dapat dimanfaatkan adalah air permukaan asal curah hujan setelah dikurangi dengan penguapan dan air tanah, berasal curah hujan meresap kedalam tanah. Sebanyak 25-35% dari air permukaan dan air tanah berupa aliran mantap yang selalu tersedia tiap tahun (low water run off). Sedangkan 75-65% berupa aliran tidak mantap, berupa banji yang mengalir dalam waktu singkat dan menghilang cepat ke laut, sehingga tidak bisa dimanfaatkan sepenuhnya.

IV. Pencemaran Sektoral dan Lingkungan

Pembangunan sektoral dapat menimbulkan pengaruh pencemaran terhadap lingklungan, sehingga usaha untuk menghindarkan penurunan mutu lingkungan ini menjadi penting.

Yang menonjol dalam pembangunan tanpa kerusakan lingkungan adalah mengelola sumber alam secara bijaksana supaya bisa menopang proses pembangunan terus-menerus bagi kepentingan generasi dio masa datang. Dan bahwa proses pembangunan selalu menghasilkan produk yang berguna dan produk sampingan yang tidak berguna, berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan.

V. Pengembangan Lingkungan Pemukiman

Pertambahan penduduk merupakan factor yang paling mempengaruhi lingkungan melalui perluasan dan pembukaan pemukiman baru. Disamping itu penduduk miskin menderita karena lingkungan pemukiman yang tidak baik dan mempengaruhi tingkat kemiskinan. Karena itu pengembangan lingkungan pemukiman penting tidak hanya untuk memperoleh lingkungan lebih baik, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang turut menumbuhkan suasana dan semangat mengatasi kemiskinan. Maka dalam Repelita III pengembangan lingkungan pemukiman diarahkan pada :

  • Perbaikan perkampungan kota terutama di kampung miskin
  • Pemugaran desa
  • Pengembangan wilayah perkotaan
  • Pemukiman transmigrasi

Dalam kerangka perputaran siklus lingkungan hidup, peranan manusia sangatlah menentukan. Manusia bisa jadi perusak tetapi bisa juga menjadi pembangun lingkungan. Karena itu maka pembangunan dengan dampak negative yang sekecil mungkin terhadap lingkungan memerlukan keterlibatan aktif dari manusia dalam pembangunan. Pelibatan aktif manusia dalam pembangunan yang ideal ialah, apabila sejak tahap permulaan pembangunan sang manusia bisa diikutsertakan. Yaitu dari tahap identifikasi kebutuhan apa yang perlu dibangun, untuk siapa, bagaimana, apabila dan bilamana. Pelibatan manusia di daerah dalam proses pembangunan biasanya dilakukan melalui berbagai macam wahana, seperti forum rapat desa; organisasi kelompok seperti kelompok petani, nelayan, koperasi, sosial, yayasan dan lain-lain.

Inti hakekat masalah lingkunga hidup adalah memelihara hubungan serasi antara manusia dengan lingkungan. Pembangunan menimbulkan perubahan, baik dalam ;lingkungan alam maupun dalam lingkungan sosial. Maka penting diusahakan agar perubahan lingkungan ini tidak sampai mengganggu keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan.

Bersamaan dengan pembangunan berlangsung gerak perpindahan penduduk dari daerah padat ke daerah jarang penduduk atau “transmigrasi” dan perpindahan penduduk dari desa ke kota atau “urbanisasi”, terjadi dalam batas Negara.

Perpindahan penduduk menyangkut unsur manusia dan factor ruang-lingkungan. Kedua-duanya merupakan factor produksi pentinmg dalam pembangunan. Karena itu perlu dikaji hal-hal apakah yang mempengaruhi keputusan manusia untuk transmigrasi, dan hal-hal apakah yang terdapat dalam factor ruang lingkungan yang bisa berpengaruh pada pembangunan dan transmigrasi.

Hal utama yang mendorong orang bertransmigrasi adalah pertimbangan ekonomi, memperbaiki tingkat hidup. Khususnya untuk Indonesia yang sedang berkembang, kemungkinan perbaikan tingkat hidup terbuka luas. Karena pendap[atan nasional Indonesia diperoleh kebanyakan dari produksi primer, seperti pertanian dan pengelolaan bahan mentah, maka terbentruknya kesempatan dalam produksi primer, tersedianya tanah garapan dan kesempatan kerja merupakan daya tarik utama bertransmigrasi ke daerah baru. Di samping itu, kesulitan hidup di daerah asalsebagai akibat menyempitnya tanah garapan, pertambahan penduduk yang mendesak lapangan kerja, bencana alam dan lain-lain merupakan dorongan bertransmigrasi ke daerah baru.

Pelestarian dan Pembangunan

Ada beberapa masalah yang dihadapi semua Negara sedang berkembang, yaitu :

  1. Penduduk yang berjumlah besar bersisian dengan daya dukung tanah yang rendah
  2. Tingkat pertambahan penduduk yang cepat bersamaan dengan tingkat kerusakan lingkungan yang cepat pula
  3. Desakan yang makin membesar akan perlunya pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk memenuhi permintaan penduduk yang terus bertambah akan kebutuhan-kebutuhan pokok

Di Negara-negara sedang berkembang tingkat kematian menurun dengan tajam, karena dampak positif pembangunan ekonomi terhadap perbaikan makanan, lingkungan kesehatan, dan fasilitas kesehatan, penurunan dan bahkan penurunan tajam tingkat kematian anak-anak di bawah usia lima tahun. Kecenderungan terus menurunnya tingkat kematian, tampaknya akan terus dalam dasawarsa yang akan dating. Kesemuanya itu me4njelaskan mengapa jumlah penduduk yang tetap masih belum mungkin tercapai di Negara-negara sedang berkembang, walaupun KB sudah berhasil. Pertambahan penduduk masih akan terus terangsang karena besarnya jumlah orang yang berusia di bawah 25 tahun yang mencapai 65% dari keseluruhan penduduk di Negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Karenanya masuk akallah untu7k memperkirakan, bahwa Negara-negara sedang berkembang masih akan mengalami kenaikan pertambahan penduduk yang tidak sedikit. Pembangunan dan pelestarian pada akhirnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu : pengelolaan sumber alam sebijaksana mungkin demi tercapainya mutu hidup manusia yang setinggi mungkin.

Hal 141

Konsepsi Wilayah dan Prinsip Pewilayahan

Januari 11, 2009


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:56.7pt; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:577904058; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1781239936 -697677690 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l0:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:688334160; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1252549380 -14664784 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:30; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:887837808; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:970107144 -397656652 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1165054502; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1696503276 578968560 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l3:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1200165295; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:181335384 831666204 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l4:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1239246370; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1021894608 1994007076 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l5:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB II

KONSEPSI WILAYAH

BERDASARKAN TIPE

WALAUPUN batasan-batasan yang dikemukakan pada bab I menunjukkan berbagai variasi, namun bila ditinjau dari golongan besar sebagaimana disebutkan di muka, kesemuanya hanya mendasarkan pada tipenya saja.

Dalam menyoroti arti dan eksistensi wilayah berdasarkan tipenya, orang akan bertitik tolak pad aide-ide homogenitas dan heterogenitas. Suatu pandangan tentang eksistensi wilayah yang mendasarkan pad aide-ide homogenitas, popular dengan istilah formal regional homogeneous region/uniform region. Dalam hal ini yang penting adalah keseragaman dari property yang ada dalam wilayah itu, baik secara sendiri-sendiri (individual) maupun gabungan dari beberapa unsur. Dan oleh karena ide-ide homogenitas sendiri dalam pengenalannya tidak semudah yang tertulis dalam teori, serta mengingat kesukaran-kesukaran tentang delimitasinya, maka kemudian timbul ide-ide tentang apa yang disebut dengan core region/wilayah inti (Alexander,1963).

Dalam membicarakan tentang sesuatu wilayah ditinjau dari ide-ide homogenitas tersebut, yang dipentingkan bukan semata-mata pengenalan sebatas mana batas-batas terluar wilayah tertentu, melainkan yang lebih penting lagi adalah mengenal bagian intinya. Hal ini perlu ditekankan, mengingat karakter utama sesuatu wilayah tercermin dalam bagian intinya. Daerah inti adalah bagian dari suatu wilayah yang mempunyai derajat deferensiasi paling besar dengan wilayah yang lain, sedang batas-batas wilayahnya dalam pandangan ide-ide homogenitas semata-mata merupakan bagian yang mempunyai derajat deferensiasi paling kecil atau nol dengan wilayah tetangganya. Oleh karena itu, daerah peralihan adalah semata-mata merupakan wilayah tersendiri dengan cirri tersendiri pula.

Pandangan kedua tentang wilayah berdasarkan tipenya adalah mendasarkan pad aide-ide heterogenitas (Minshull, 1970). Dalam ide-ide heterogenitas tercermin suatu pola interdependensi dan pola interaksi antara subsistem utama ecosystem dengan subsistem utama social system. Sedangkan penekanan utamanya menyangkut segi-segi kegiatan manusia (man’s activities).

Sebetulnya dalam ide-ide yang kedua tersebut tercermin suatu pola ‘unity in diversity’, dengan keberbagaian gejala dalam batas-batas tertentu tercipta suatu kesatuan hubungan dan pola ketergantungan. Biasanya system yang ada dalam batas-nbatas wilayah tersebut terkontrol oleh sebuah titik pusat.

Sering pula dikatakan bahwa disamping menekankan pandangan pad aide-ide heterogenitas, juga menekankan pad aide-ide sentralitas. Untuk menentukan batas-batas wilayah (delimitation of region) banyak sekali cara yang dapat digunakan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, atau dapat juga denmgan generalisasi maupun klasifikasi, atau gabungan dari keduanya.

Gambar 1 : Functional Region (wilayah fungsional)

Keterangan :

: direct relation

: indirect relation

: boundary (conceptual)

Oleh karena pandangan yang kedua tersebut menitikberatkan pada hubungan fungsional, maka wilayah seperti itu disebut wilayah fungsional (functional region). Namun V. B. Stanberry memberikan istilah yang lain terhadap wilayah seperti ini; dia memandang eksistensi wilayah ini pada hubungan yang hidup di dalamnya, sehingga memberi istilah sebagai organic region. Sedangkan pandangan J. W. Alexander lain lagi; dia memandang eksistensi wilayah ini pada adanya kesamaan pusat aktivitas hubungan dari system yang ada, sehingga istilah yang dipakainya adalah nodal region.

Ketiga istilah tersebut (functional region, organic region, dan nodal region) pada dasarnya memiliki pengertian yang sama (Alexander, 1963).

BAB III

KONSEPSI WILAYAH

BERDASARKAN RANK/HIRARKHI

UNTUK meninjau rank/hirarkhi sesuatu wilayah, kita dapat bertitik tolak dari berbagai segi, misalnya ditinjau dari segi size (ukuran), form (bentuk), function (fungsi), atau faktor-faktor yang lain. Dapat pula titik tolak tinjauannya berdasarikan pada gabungan dari berbagai faktor tersebut.

Semua pengertian wilayah selalu ditekankan pada sifat khasnya (unique characteristic). Namun dari sifat khas ini bila ditinjau lebih mendalam lagi dapat juga dipisahkan ke dalam beberapa sifat yang lebih detail lagi, pada sampai pada suatu taraf yang sifat khasnya tidak dapat diuraikan lagi.

Berikut ini akan dikemukakan salah satu contoh tentang pandangan wilayah yang menekankan pada rank/hirarkhi wilayah.

Passarge (Jerman) mengemukakan ide-ide tentang ‘rank of region’ sebagai berikut (Minshull, 1970).

Satuan wilayah terkecil adalah gegend, kemudian landschafsteil, landscahft, landsteil, dan land. Urut-urutan wilayah ini mencerminkan orde dari suatu wilayah. Gabungan dari beberapa gegend akan membentuk suatu wilayah yang disebut landschafteil; gabungan dari beberapa landschafteil akan membentuk wilayah yang lebih luas dan disebut landschaft; gabungan dari beberapa landschaft akan membentuk wilayah yang lebih luas lagi yang disebut landsteil; dan gabungan dari beberapa landsteil akan membentuk wilayah yang dinamakan land.

Perlu ditegaskan, istilah dalam bahasa Jerman, land atau landschaft dalam konteks ini tidak boleh dipersamakan dengan istilah land atau landschape dalam bahasa Inggris, karena pengertian dalam bahasa Jeran jauh lebih luas daripada pengertian dalam bahasa Inggris tersebut.

Pandangan di atas dapat diekstrapolasi ke dalam berbagai bidang, baik dengan mempertimbangkan unsur-unsur wilayah terpilih (selected factors) atau keseluruhan unsur-unsur wilayah yang ada.

Sarjana-sarjana lain yang juga mengemukakan tentang hal tersebut antara lain adalah Fenneman (1916), Unstead (1933), Whittlesey (1954), Weaver John (1954), Sing Harpal (1965), dan lain-lain.

Secara diagramatis rank wilayah dapat digambarkan sebagai berikut : (Chorley & Hagget, 1970); lihat gambar 2

Gambar 2: Hirarkhi wilayah (Regional hierarchy)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

1 , 2

3 , 4

5 , 6

7 , 8

9 , 10

11 , 12

13 , 14

15 , 16

1 , 2 3 , 4

5 , 6 7 , 8

9 , 10 11 , 12

13 , 14 15 , 16

1 , 2 3 , 4

9 , 10 11 , 11

5 , 6 7 , 8

13 , 14 15 , 16

A

B

C

D

E


Keterangan :

A : Gegend – rank of the 1st order

B : Landschafsteil – rank of the 2nd order

C : Landschaft – rank of the 3rd order

D : Landsteil – rank of the 4th order

E : Land – rank of the 5th order

Ide-ide tersebut hendaknya diperdalam oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang perencanaan, sehingga tujuan perencanaan serta konsepsi-konsepsi yang digunakan tidak kabur. Sebagai pedoman, para pembaca dipersilahkan membaca beberapa literatur yang disarankan (terlampir dalam Daftar Pustaka).

Oleh karena masalah penentuan wilayah lebih sukar dalam praktek daripada dalam teori maka belakangan ini beberapa sarjana mulai mencoba untuk menentukan batas-batas luas dari masing-masing rank dihubungkan dengan besar-kecilnya skala yang digunakan untuk tujuan perencanaan.

BAB IV

KONSEPSI WILAYAH

BERDASARKAN KATEGORI

BERDASARKAN kategorinya, wilayah dapat mempunyai realisasi yang bermacam-macam. Penggolongan yang umum digunakan dalam regionalisasinya adalah : single topic region (wilayah bertopik tunggal), combined topic region (wilayah bertopik region), multiple topic region (wilayah bertopik banyak), total region (wilayah total), dan compage.

Single topic region adalah suatu wilayah yang eksistensinya didasarkan pada satu macam topic saja. Bila ditinjau dari tipenya, wilayah ini dapat merupakan wilayah formal ataupun wilayah fungsional.

Jenis wilayah kedua yang ditinjau dari kategorinya adalah combined topic region. Sekilas eksistensi wilayah yang kedua ini sama dengan yang tersebut pertama, tetapai sebetulnya terdapat perbedaan penting diantara keduanya.

Wilayah yang dibentuk seagai realisasi gabungan beberapa topik, tentu saja berbeda dengan yang hanya mendasarkan pada satu topik saja. Topik-topik yang dibicarakan di sini adalah termasuk dalam cakupan topik yang lebih besar. Sebagai contoh dapat dikemukakan, suatu wilayah yang dihasilkan dari delimitasi atau curah hujan saja akan menghasilkan wilayah dengan satu topik saja (single topic region), sedangkan delimitasi regional yang mendasarkan pada gabungan dari beberapa topic seperti data curah hujan, masa hawa, temperature, dan tekanan udara dalam jangka panjang akan menghasilkan wilayah-wilayah iklim yang mempunyai karakteristik berbeda-beda. Wilayah dalam perwujudan seperti terakhir ini disebut combined topic region. Contoh ini diharapkan dapat diekstrapolasi sendiri dalam bidangnyua masing-masing.

Kategori yang ketiga, multiple topic region, adalah suatu wilayah yang eksistensinya mendasarkan pada beberapa topik yang berbeda satu sama lain.

Secara bebas dapat dikatakan bahwa dalam combined topic region mendasarkan pada unsur-unsur dari satu topik, sedangkan pada multiple topic region mendasarkan pada beberapa topic yang berbeda-beda tetapi masih berhubungan satu sama lain. Hal ini biasanya diarahkan pada tujuan-tujuan yang lebih luas sifatnya. Sebagai contoh untuk mengevaluasi sesuatu daeraah untuk daerah pertanian, maka faktor-faktor yang berhubungan dengan pertanian digunakan sebagai dasar untuk delimitasinya. Faktor-faktor itu antara lain me;liputi data tentang iklim, keadaan tanah, hidrologi, geomorfologi dan lain-lain yang dianggap memegang peranan penting dalam masalah pertanian. kombinasi dari berbagai topik tersebut akan menentukan timbulnya multiple topic region.

Beberapa sarjana, kadang-kadang mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang kategori yang ketiga tersebut. Sedangkan istilah lain dari multiple topic region adalah ‘multiple feature region’.

Di samping mendasarkan pada topik-topikdalam delimitasi wilayah dapat pula mendasarkan pada topik-topik yang tidak berhubungan dengan erat. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini tentang eksistensi wilayah ekonomi (economi region); dasar-dasar delimitasinya tidak semata-mata pada faktor-faktor ekonomi, tetapi faktor-faktor nonekonomi pun perlu dipertimbangkan.

Kategori yang ke empat adalah total region. Dalam hal ini semua unsure wilayah tercakup dalam delimitasinya. Regionalisasinya bersifat klasik, dimana kesatuan politik digunakan sebagai dasarnya.

Keuntungan total region terletak pada pelaksanaannya, terutama ditinjau dari segi administrative conrinience-nya. Namun pendekatan wilayah (region approach) yang mendasarkan pada cara-cara klasik tersebut lebih banyak menimbulkan kesulitan daripada kemudahannya. Hal ini semata-mata karena berhubungan dengan keluasaan masalah yang harus dicakup. Untuk keperluan perencanaan, konsep-konsep seperti ini selalu dihindarkan mengingat derajat homogenitas gejkala biasanya sangat kecil.

Yang menjadi bahan bahasan terakhir adalah konsepsi wilayah yang disebut compage. Dalam ide ini bukan banyak sedikitnya topik yang menjadi pertimbangan utama, melainkan menonjolnya aktivitas manusia yang di sesuatu tempat yang menjadi dasar delimitasinya. Orientasi tidak lagi menitikberatkan pada physical setting-nya, melainkan bobot kegiatan manusia ditinjau dari kepentingan local maupun nasional. Hal terakhir ini tentu saja tidak terlepas dari usaha melestarikan dan mengembangkan sumber daya lingkungan.

Dari uraian di atas tidaklah berarti kita harus menganut salah satu dari konsep-konsep tersebut, tetapi kombinasi silang dari antar amereka dapat pula dijalankan. Hal ini tergantung pada jenis kegiatan, lingkup usaha, masalah, besar-kecil daerah, dan tujuan program yang dirancang.

Kombinasi silang konsep-konsep di atas adalah sebagai berikut :

(lihat gambar 3).

Gambar 3: Kombinasi konsep wilayah

Type

Formal/Functional

Category

Rank

Single topic

Combined topic

Multiple topic

total

compage

Orde 1

x

x

x

x

x

Orde 2

x

x

x

x

x

Orde 3

xxx

xxx

xxx

xxx

xxx

Orde n

xxx…xn

xxx…xn

xxx…xn

xxx…xn

xxx…xn

Gambar 4: Single topic region (wilayah bertopik tunggal)

b

a

Skala besar c

Gambar 5: Combined topic region (wilayah bertopik gabungan)

a, b, f, g, h,

c, d, e, I, j, k, l

Skala besar-medium

Gambar 6: Multiple topic region (wilayah bertopik banyak)

X1, X2, X3

Skala medium

Gambar 7: Total region (wilayah total)

X1, X2, X3, X4 X1, X2, X3,

X5 ______ Xn X4, X5 __Xn

administrative boundary (batas administrative)

Gambar 8: Compage

a, d, i, q, r 0

selected topics (topic-topik terpilih)

Skala besar-medium

BAB V

PENGERTIAN PEWILAYAHAN

PEWILAYAHAN dalam suatu program perencanaan memegang peranan yang sangat penting, sehingga mutlak perlu dipahami oleh para perencana. Hal ini antara lain karena pewilayahan sangat berguna untuk mengetahui variasi karakter dalam suatu wilayah tertentu.

Pewilayahan adalah usaha untuk membagi-bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula. Pembagiannya dapat mendasarkan pada criteria-kriteria tertentu seperti administrative, politis, ekonomis, sosial, cultural, fisis, geografis, dan sebagainya.

Pewilayahan di Indonesia berhubungan erat dengan pemerataan pembanguynan dan mendasarkan pembagiannya pada sumberdaya-sumberdaya local, sehingga prioritas pembangunan dapat dirancang dan dikeloila sebaik-baiknya.

Pewilayahan untuk perencanaan pengembangan wilayah di Indonesia bertujuan untuk :

1. menyebar-ratakan pembangunan sehingga dapat dihindarkan adanya pemusatan kegiatan pembangunan yang berlebih-lebihan di daerah tertentu;

2. menjamin keserasian dan koordinasi antara berbagai kegiatan pembangunan yang ada di tiap-tiap daerah;

3. memberikan pengarahan kegiatan pembangunan, bukan saja pada para aparatur pemerintah, baik pusat maupun daerah, tetapi juga kepada masyarakat umum dan para pengusaha (Hariri Hady, 1974).

Pewilayahan ditinjau dari berbagai negara mempunyai corak/ragam yang bermacam-macam. Hal ini dikarenakan masing-masing negara memiliki present problems yang memang sangat bervariasi.

BAB VI

PRINSIP-PRINSIP PEWILAYAHAN

SECARA garis besar metode pewilayahan dapat digolongkan ke dalam dua golongan besar, yaitu :

Golongan pertama : Penyamarataan wilayah (Regional Generalization)

Golongan kedua : Klasifikasi wilayah (Regional Classification)

VI.1 Penyamarataan Wilayah (Regional Generalization)

Penyamarataan wilayah (generalisasi regional) adalah suatu proses/usaha untuk membagi permukaan bumi atau bagian dari permukaan bumi tertentu menjadi beberapa bagian dengan cara mengubah atau menghilangkan faktor-faktor tertentu dalam populasi yang dianggap kurang penting atau kurang relevan, dengan maksud untuk menonjolkan karakter-karakter tertentu. Walaupun pengertian penyamarataan itu sendiri memberi kesan yang bersifat kualitatif, namun dalam pelaksanaannya dapat pula dikerjakan secara kuantitatif.

Dalam mengadakan generalisasi regional, perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain sebagai berikut.

VI.1.1 Skala Peta

Oleh karena masalah skala merupakan faktor yang sangat penting dalam perpetaan, maka dalam generalisasi derajat generalisasinya pun dipengaruhi oleh besar-kecilnya skala yang digunakan dalam peta yang bersangkutan. Suatu studi wilayah yang detail menghendaki ketelitian dan ketepatan pengukuran-pengukuran yang dilakukan dilapangan. Dalam hal ini umumnya peta-peta berskala besar digunakan untuk visualisasi data. Daerah survey pada taraf ini biasanya tidak meliputi daerah yang terlalu luas. Tentu saja, untuk generalisasi regional yang meliputi daerah luas, dengan sendirinya akan menggunakan peta-peta yang berskala kecil.

Akibat yang timbul dari penggunaan skala-skala peta yang berbeda-beda tersebut adalah sebagai berikut :

1) makin besar skala peta yang digunakan (makin detail features yang diamati), akan makin kecil derajat penyamarataan wilayah yang dilakukan;

2) makin kecil skala yang digunakan (makin tidak detail features yang diamati), akan semakin besar derajat penyamarataan wilayah yang dilakukan. (James, 1952).

VI.1.2 Tujuan Pewilayahan

Tujuan pewilayahan akan mempengaruhi derajat generalisasi yang dilakukan. Untuk pemetaan tata guna tanah misalnya, akan mempunyai derajat geeralisasi yang lebih kecil dianding dengan generalisasi regional untuk tujuan analisis klimatologis. Hal ini banyak dipengaruhi oleh ‘visual features’ yang ada dalam penelitian yang dimaksud.

Untuk ‘visual data’ akan mengalami derajat generalisasi yang lebih kecil disbanding dengan ‘unvisual data’, dengan pengertian bahwa faktor-faktor lain adalah sama.

VI.2 Delemitasi dalam Generalisasi regional

Masalah-masalah yang selalu dihadapi oleh para cendikiawan dibidang perencanaan pengembangan wilayah (regional develo9pment planning) dalam hubungannya dengan pewilayahan adalah ‘delimitasi regional’. Seorang perencana haruslah mempunyai keahlian di bidang ini, sehingga regionalisasi yang dilakukan betul-betul mewakili sejumlah property yang ada dalam sesuatu wilayah untuk tujuan tertentu.

Delimitasi adalah cara-cara penentuan batas terl;uar sesuatu wilayah untuk tujuan tertentu. Dalam generalisasi regional, delimitasi dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu :

1) generalisasi wilayah yang menggunakan cara-cara kualitatif

2) generalisasi wilayah yang menggunakan cara-cara kuantitatif.

VI.2.1. Delimitasi Kualitatif dalam Generalisasi Wilayah

Sifat-sifat yang ada dalam suatu wilayah ditinjau secara menyeluruh akan menimbulkan image tentang kenampakan-kenampakan yang menyolok dari wilayah tersebut. Dengan kata lain, kenampakan-kenampakan yang dominant pada sesuatu tempat akan memberi kesan yang lebih menyolok tentang wilayah yang bersangkutan.

Adalah suatu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa di permukaan bumi ini tidak ada satu daerah pun yang mempunyai karakteristik-karakteristik yang sepenuhnya identik.

Masing-masing daerah tersebut secara konseptual akan dibatasi oleh suatu garis pemisah/garis batas. Masalah garis batas ini selalu menjadi bahan diskusi yang menarik di kalangan para cendikiawan. Hal ini disebabkan pada hakekatnya garis pemisah tersebut bukan merupakan batas yang tegas antara wilayah yang satu dengan yang lainnya, tetapi lebih merupakan suatu wilayah peralihan (zone of transition) antara dua kenampakan yang berbeda. Jalur wilayah yang mempunyai deferensiasi kenampakan paling kabur adalah ‘zone of transition’ tersebut, sedangkan bagian wilayah yang mempunyai deferensiasi kenampakan paling tegas adalah core region (Alexander, 1963).

Dalam konsepsi wilayah inti ini ditekankan bahwa arti penting suatu wilayah bukan terletak pada batas-batasnya, melainkan terletak pada bagian intinya. Hal ini dikarenakan wilayah inti dianggap sebagai bagian yang betul-betul mewakili (representative) terhadap sesuatu wilayah. Ide-ide ini sangat menentukan baik-tidaknya suatu penelitian, karena angat berhubungan dengan teknik-teknik penentuan pemilihan ‘area sampel’ dalam penelitian tertentu.

Delimitasi kualitatif dalam generalisasi regional banyak dikerjakan dalam interpretasi foto udara maupun dalam ERTS imagery. Delimitasi kenampakan yang dijalankan berdasarkan pada rona (tone), tekstur, dan pola yang ada dalam foto udara yang bersangkutan ataupun dalam ERTS imagery. Dalam hal ini delimitasi kualitatif lebih menguntungkan dan dapat lebih terpercaya disbanding delimitasi yang mendasarkan pada peta-peta garis (line maps). Untuk daerah-daerah yang sempit dapat digunakan foto udara dan untuk daerah0daerah yang luas dapat digunakan ERTS imagery.

Contoh tentang ide delimitasi kualitatif dal;am regionalisasi wilayah adalah pembagian Indonesia ke dalam beberapa wilayah pembangunan (Hariry Hady, 1974). Dalam hal ini Indonesia dibagi-bagi kedalam sepuluh wilayah pengembangan, yaitu :

1) Wilayah Pengembangan Utama A, dengan pusat utamanya Medan yang terdiri dari :

Wilayah pembangunan I, meliputi pro[insi Aceh dan Sumatera Utara;

Wilayah pembangunan II, meliputi propinsi Sumatera Barat dan Riau.

2) Wilayah Pembangunan Utama B, dengan pusat utamanya Jakarta Raya, yang terdiri dari :

Wilayah pembangunan III, meliputi propinsi Jambi, propinsi Sumatera Selatan, dan propinsi Bemngkulu;

Wilayah pembangunan IV, meliputi propinsi Lampung, Jakarta Raya, Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta;

Wilayah pembangunan VI, meliputi propinsi Kalimantan Barat.

3) Wilayah Pembangunan Utama C, denganm pusat utamanya Surabaya, yang terdiri dari :

Wilayah pembangunan V, meliputi propinsi Jawa Timur dan pulau Bali.

Wilayah pembangunan VII, meliputi propinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan propinsi Kalimantan Timur.

4) Wilayah Pembangunan Utama D, dengan pusat utamanya Ujung Pandang, yang terdiri dari :

Wilayah pembangunan VIII, meliputi propinsi Nusa Tenggara Barat minus pulau Bali, Nusa Tenggara Timur, propinsi Sulawesi Selatan, dan pSulawesi Tengah;

Wilayah pembangunan IX, meliputi propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara;

Wilayah pembangunan X, meliputi propinsi Maluku dan propinsi Irian Jaya.

Untuk lebih jelasnya, pembagian wilayah pembangunan Indonesia dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 9: Wilayah-wilayah Pembangunan di Indonesia

Keterangan :

: Wilayah Pembangunan Utama

: Wilayah Pembangunan

Gagasan pembagian wilayah pembangunan tersebut terutama bertujuan untuk memperkuat kesatuan ekonomi nesional yang utuh. Inter-relationship dan inter-dependency antara daerah pengembangan menjadi pertimbangan utama di samping adanya potensi daerah yang menonjol.

Penggunaan delimitasi wilayah kualitatif dalam generalisasi mengandung sejumlah kelemahan. Hal ini disebabkan oleh cara memisah-misahkan wilayah yang satu dengan yang lain semata-mata mendasarkan pada pengamatan yanmg bersifat kualitatif. Karena itu, delimitasi kualitatif sebetulnya hanya cocok diterapkan ‘pre-planning period’, dimana gambaran umum tentang sesuatu wilayah diperlukan untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan langkah-langkah selanjutnya yang lebih konkrit dan tegas.

Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini tentang salah satu kelemahan penggunaan delimitasi kualitatif dalam generalisasi regional tersebut.

Dari gambar 9 (wilayah0wilayah pembangunan di Indonesia) dapat diketahui bahwa ada beberapa masalah yang dihadapi, antara lain sebagai berikut :

Masalah yang pertama berkaitan dengan pemasukan beberapa wilayah ke dalam unit pembangunan yang sama. Dalam unit wil;ayah pembangunan IV misalnya, dimasukkannya daerah Lampung dan sekitarnya kedalam unit wilayah pembangunan yang juga meliputi Jawa Barat dan Jawa Tengah, jelas terlalu mendasarkan pada kriteria yang sifatnya kualitatif. Kriteria-kriteria kualitatif ini jelas akan mengundang berbagai masalah yang sangat menyulitkan dan perlu dipecahkan, terutama berkaitan dengan derajat ketelitian dan derajat konsistensinya.

Masalah yang kedua berkaitan dengan penentuan batas masing-masing wilayah pembangunan. Sebagai contoh dapat dikemukakan, batas antara wilayah pembangunan II dan wilayah pembangunan III, terlalu sulit dimengerti. Hal ini akan merupakan sumber persoalan yang serius pada bagian-bagian batas di daratan, karena gap antara garis yang satu dengan garis yang lain tidak sekedar jalur sempit (transition zone) saja, tetapi meliputi daerah yang cukup luas untuk dapat disebut sebagai batas. Lain halnya dengan gap yang terletak di daerah perairan, tentunya tidak akan menimbulkan masalah sedemikian besar seperti di daerah daratan, karena secara fisik tidak akasn menimbulkan akibat yang berarti.

Akhirnya perlu ditegaskan; untuk tujuan pewilayahan yang mendalam, teknik delimitasi kualitatif dalam generalisasi wilayah seyogyanmya tidak digunakan.

VI.2.2 Delimitasi Kuantitatif dalam Generalisasi Wilayah

Delimitasi yang dikerjakan pada golongan yang kedua ini tidak semata-mata menggunakan parameter-parameter yang sifatnya kualitatif, melainkan lebih ditekankan pada parameter-parameter yang sifatnya kuantitatif.

Data yang digunakan sebagai dasar untuk generalisasi diambilkan dari berbagai bidang. Dari data yang terkumpul kemudian dituangkan kedalam peta, dan akhirnya akan memberikan gambaran penyebaran data tersebut dalam hubungannya dengan ruang.

Salah satu contoh yang sederhana dalam hal ini adalah pewilayahan klimatologis yang dikerjakan oleh U. S. Weather Beureau. Dalam delimitasinya, badan ini mendasarkan regionalisasi pada lokasi station-station meteorologi yang tersebar di seluruh daerah. Dengan menghubungkan beberapa titik (dalam hal ini diwakili oleh station-station meteorologi tersebut), kemudian dibuat garis-garis berat dari masing-masing garis penghubung antara dua station. Maka akan diperoleh wilayah-wilayah klimatologi dengan batas-batas garis berat, dengan station meteorologi sebagai pusatnya, dan wilayah tersebut berupa bentuk yang terkenal dengan sebutan polygon. Cara ini mendasarkan pada teknik pembuatan polygon seperti dikemukakan oleh Thiesen dan dikenal dengan sebutan Thiesen Polygon (Haggett, 1970).

Prinsip regionalisasi di atas dapat dilihat dalam gambar 10.

Gabar 10. Teknik delimitasi kuantitatif dalam generalisasi wilayah dengan mendasarkan pada Thiensen Poligons

Teknik-teknik yang telah dijelaskan di muka dapat dilakukan atas data yang bermacam-macam dengan temapt tertentu dianggap sebagai ‘core region’. Sedangkan contoh teknik lain yang mendasarkan criteria delimitasi seperti tersebut diatas, terkenal dengan Railly’s Law (Nelson, 1958).

Yang dikerjakan dalam Railly’s Law adalah mencari jarak jangkau pengaruh sesuatu pusat kegiatan. Railly’s Law juga terkenal dengan istilah Law or Retail G ravitation, karena pertama-tama teknik ini diterapkan untuk memeplajari ‘retailing’. Dalam treknik ini dilakukan delimitasi kuantitatif dari generalisasi wilayah tertentu atas dasar kekuatan tarik-menarik pengaruh dari dua pusat kegiatan.

Dalam bentuk model, teknik delimitasi tersebut tercermin dalam rumus sebagai berikut :

d

DA.B =

1 + P. B

P. A

Keterangan :

DA.B : merupakan batas terluar pengaruh pusat kegiatan, dihitung dalam mil

atau kilometer sepanjang jalan dari A menuju B;

P.A. : jumlah penduduk pada kota A;

P.B. : jumlah penduduk pada kota B;

d : jarak jalan utama yang menghubungkan antara pusat kegiatan A dan

pusat kegiatan B dihitung dalam mil atau kilometer.

Limit antara dua titik pengaruh kemnudian dihubung-hubungkan dan akan terdapat kesatuan-kesatuan wilayah yang dihasilkan secara kuantitatif. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri dalam hal ini adalah bahwasanya dalam batas-batas tertentu derajat generalisasinya masih tampak besar.

Gambar 11: Delimitasi wilay7ah berdasarkan Reilly’s Law

C

P 500

d 55 KM

P 2000 P 8000

A d 80 KM

B

Dengan adanya kemajuan dibidang elektronika pada akhir abad ini, diikuti pula oleh kemajuan di bidang teknik-teknik menghitung secara elektronis, maka alat hitung elektronik (computer) mulai diterapkan pula dalam teknik-teknik pewilayahan. Keuntungan yang menyolok dari penggunaan alat ini adalah kerjanya yang cepat dan derajat konsistensinya yang tinggi. Dalam hal ini penyebaran data dicerminkan dalam data yang diolah dengan computertersebut. Delimitasi wilayah dapat dikerjakan dengan jalan mendelimitasi batas-batas antara penyebaran jenis-jenis data yang berlain-lainan.

Gambar 12: Delimitasi wilayah berdasarkan ‘computerized data’

ooooooooooooo 000 xxxxxx &&&&& &&& &&& &&& &&& &&& &&& ooooooooooooo 000 xxxxx &&& &&& &&&&&&&&&&&&&&&&&&& oooooooooooo 000 xxxx &&&&&&&&&&&&&&&&&&&&& &&&&& oooooooo 0000 xxxx &&&&&& +++++++++++++++++++ &&&&&& oooo 0000000 xxxxx &&&& +++++++========= ,++++++++ & & & o 0000000 xxx &&&&& +++++++ ===== , , , , , , , , , ===== ++++ &&& 000000 xxxxxxxxx&&& ++++++ ====== , , , , , , , , , ,======= ++++ & & 00000 xxxxxxxx &&&& ++++++++ ======, , , , , , , ,========++++ & & 00000 xxxxxx &&&&& +++++++++++ =================++++&&& 00000 xxxxxx &&&&&&&&& +++++++++++++++++++++++++++ &&& oo0000 xxxxxxx &&&&&&&&&&&&&&& +++++++=+++++++++ &&& oo000000xxxxxxxxxxxxxxxxx &&&&& &&& &&& &&&&&&&&&&&& oo0000000 xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx &&&& 000000 +++++++ xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xx 000000 ++++++++++ xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx +++++++++ 0++++++++++++++++++xxxxxxxxxxxxxxxxx+++++++++++++++++++++++++

Dari penyebaran data seperti ditunjukkan pada gambar 12, dapat terlihat deferensiasi data berdasarkan symbol-simbol yang dipakai dalam peta computer tersebut. Deliniasi dapat dikerjakan dengan mudah berdasarkan penyebaran symbol-simbol tersebut yang mewakili property tertentu.

Oleh karena elektronis setiap data dapat diolah dengan suatu program tertentu, maka regionalisasinya dapat disesuaikan dengan tujuan tertentu tersebut. Walaupun sifat generalisasinya masih tampak, tetapi unsur ketelitiandan reabilitas regionalisasinya lebih dapat dipertahankan. Dalam hal ini seorang perencana dapat dengan mudah mengadakan identifikasi wilayah dan sekaligus mengadakan demlimitasi wilayah atas property tertentu (Lawrence, 1971).

VI.3 Klasifikasi Wilayah

Secara etimologis pengertian klasifikasi adalah metode untuk mengatur data secara sistematis menjadi golongan-golongan atau beberapa bagian yang dalam hal ini dapat berupa grup, klas, atau keluarga (Webster, 1966).

Klasifikasi wilayah adalah usaha untuk mengadakan penggolongan wilayah secara sistematis ke dalam bagian-bagian tertentu berdasarkan property tertentu. Penggolongan yang dimaksud haruslah memperhatikan keseragaman sifat dan memperhatikan semua individu. Semua individu yang ada dalam populasi mendapat tempat dalam golongannya masing-masing. Usaha untuk mengubah atau mengeliminir (menghilangkan) data seperti yang terjadi dalam proses generalisasi, tidak terdapat dalam klasifikasi.

Tujuan utama klasifikasi adalah tidak untuk menonjolkan sifat tertentu dari sejumlah individu, melainkan mencari defferensiasi antar golongan. Cara-cara yang dapat dikerjakan dalam klasifikasi dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Secara garis besar, klasifikasi dapat diperbedakan ke dalam dua golongan, yaitu klasifikasi yang bertujuan u7ntuk mengetahui deferensiasi jenis dan klasifikasi yang bertujuan untuk mengetahui deferensiasi tingkat.

VI.3.1 Deferensiasi Jenis dalam Klasifikasi Wilayah

Dalam program-program perencanaan, deferensiasi jenis sangat penting. Hal ini terutama dilakukan untuk mendapat gambaran tentang sifat sesuatu wilayah yang ada.

Defeerensiasi jenis kebanyakan dilakukan secara kualitatif. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini tentang usaha klasifikasi wilayah yang mendasarkan pada penyebaran tata guna tanahnya. Dari data tata-guna tanah yang ada dapat digambarkan tentang wilayah-wilayah yang berbeda-beda dengan masing-masing karakteristiknya. Sampai pada batas-batas tertentu, derajat generalisasi yang ada dalam cara ini masih tampak, walaupun tidak besar. Makin teliti suatu klasifikasi, akan memberikan informasi yang makin baik.

Cara tersebut banyak diterapkan pada survai yang menggunakan foto udara sebagai alat analisisnya. Dari kenampakan foro garis dapat ditentukan batas-batas penggu7naan tanah (land cover)-nya dengan jelas.

Beberapa sarjana menganggap bahwa klasifikasi jenis itu tidak lain adalah generalisasi, walaupun sebenarnya antara keduanya mempunyai perbedaan yang sangat menyolok.

VI.3.2. Deferensiasi Tingkat dalam Klasifikasi Wilayah

Deferensiasi tingkat ini dapat digolongkan ke dalam dua metode, yaitu :

VI.3.2.1 Metode Interval (Interval Method)

Oleh karena regionalisasinya didasarkan atas dasar statistic, sifat utamanya adalah kuantitatif. Yang perlu diperhatikan dalam deferensiasi tingkat ini adalah parameter-parameter klas yang digunakan untuk dasar penggolongan. Semakin banyak klas-klas yang dibentuk dalam deferensiasinya, atau makin kecil interval yang digunakan sebagai dasar penggolongan, akan semakin banyak informasi yang dapat disadap dari data yang bersangkutan (Robinson A. H. & R. D. Sale, 1969).

Salah satu contoh deferensiasi tingkat dengan menggunakan metode interval adalah sebagai berikut. (lihat gambar 13)

Gambar 13: Deferensiasi tingkat dengan menggunakan metode interval

44 48 51 55 57 55 52 48 44 40 34 26 25 18 9 8

46 54 58 64 67 60 59 53 45 41 35 28 27 20 18 16

54 56 65 67 73 68 65 60 49 42 37 29 28 27 23 20

51 61 71 77 89 75 69 61 51 43 38 33 32 31 25 23

56 66 71 84 97 78 71 66 55 41 39 38 37 33 31 26

51 56 65 67 72 67 65 56 50 46 43 47 53 50 46 41

49 55 59 61 66 62 59 54 51 48 52 56 55 54 50 47

44 46 53 52 57 51 50 50 52 54 61 66 62 59 53 47

42 43 48 49 45 46 48 51 58 65 68 72 67 64 60 51

37 41 41 42 41 39 45 51 61 71 75 84 73 68 61 54

33 35 40 40 37 38 43 55 66 71 78 89 80 71 67 56

27 31 29 35 33 36 42 53 61 67 75 87 77 69 60 52

24 28 30 31 30 33 42 47 56 65 67 73 68 65 59 50

18 18 22 28 33 32 40 45 54 59 60 65 63 59 58 46

9 11 20 26 27 27 33 34 46 53 56 58 55 51 50 44

Dari penyebaran data secara keruangan tidak treratur, dapat diperoleh suatu sistematika penyebaran data dengan mendasarkan pada interval tertentu. Dari masing-masing klas dapat dibuat batas-batasnya. Seperti diterangkan dimuka, makin kecil interval atau makin klas yang ada, akan makin mencerminkan tingkat ketelitian yang makin tinggi.

VI.3.2.2 Metode Hirarkhis (Hirarchical Method)

Dalam klasifikasi ini masing-masing klas mempunyai hubungan dengan klas-klas di bawahnya atau di atasnya, karena orde yang lebih tinggi merupakan gabungan dari klas yang dibawahnya (Chorley & Haggett, 1970).

Secara diagramatis pembagian klas dengan metode hirarkhis adalah seperti terlihat pada gambar 14.

Gambar 14: Deferensiasi tingkat dengan menggunakan metode hirarkhis

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

L

M

N

O

P

A , B

C , D

E , F

G , H

I , J

K , L

M , N

O , P

A , B , C , D

E , F , G , H

I , J , K , L

M , N , O , P

A , B , C , D , E , F , G , H

I , J , K , L , M , N , O , P

A , B , C , D , E , F , G , H , I , J , K , L , M , N , O , P

Salah satu contoh regionalisasi yang menggunakan metode tersebut seperti dikemukakan oleh Linton dalam karangannya yang berjudul The Delimination of Morphological Region (1949) yang membegi urut-urutan ‘geomorphic unit’ sebagai berikut :

Geomorphic order Contoh Order

Continent North America 7th

Realm Weastern Cordilleras 8th

Province Sierra Nevada 5th

Section Line of Valleys 4th

Tract Glaclated Valleys 3rd

Stow Adret or U bac 2nd

Site A Flat or a Slope 1st

(Linton, 1949)

Di bidang-bidang lain metode tersebut banyak pula diterapkan walaupun dengan peristilahan yang berbeda-beda, seperti yang dikemukakan oleh Fennemenn (1916), Unstead J.F. (1933), Whittlesey D. (1956), Weaver (1954), dan Singh Harpal (1965).

Dari uraian tentang pewilayahan yang serba singkat dimuka, dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :

1) Generalisasi regional (penyamarataan wilayah) mempunyai arti yang penting dalam prosdes perencanaan wilayah, terutama dalam tahap pengenalan wilayah (reconnaissance of the area), atau dengan kata lain dapat ditegaskan bahwa dalam ‘pre-planning period’ teknik ini memegang peranan yang utama karena berhubungan erat dengan penentuan prioritas pembangunan.

2) Dalam tahap perencanaan yang berikutnya (planning period) lebih kena bila menggunakan teknik-teknik klasifikasi wilayah.

3) Delimitasi kuantitatif lebih memudahkan para perencana dalam mengerjakan pewilayahan karena derajat konsistensinya lebih mudah dipertahankan.

4) Untuk mengerjakan usaha pewilayahan dengan cepat, tepat, dan konsisten sangat dianjurkan menggunakan computer.

KONSEPSI WILAYAH DAN PRINSIP PEWILAYAHAN

Hadi Sabari. Drs. (UGM). M.A. (Denver). DRS. (Utrecht)

Penerbit PT. HARDANA. Yogyakarta.1991

SDA untuk Pembangunan Nasional

Januari 11, 2009


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:85.05pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; mso-header-margin:56.7pt; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:63333261; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1397261424 -397656652 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:119689041; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1153968712 267447068 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:18.75pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.75pt; text-indent:-18.75pt;} @list l2 {mso-list-id:592394746; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1559672232 134807577 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:924801469; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-692530080 -682883548 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l3:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:1464621239; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-564089498 134807577 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1770421911; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1815994006 134807565 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l6 {mso-list-id:2023239490; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-329897074 -397656652 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l7 {mso-list-id:2023626260; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:411305104 134807577 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l8 {mso-list-id:2074083986; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-672627750 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l8:level1 {mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Judul : SUMBER DAYA ALAM Untuk Pembangunan Nasional

Pengarang : Prof. J. a. Katili

Penerbit : GHALIA INDONESIA, Jakarta Timur, 1983

BAB I

SUMBER DAYA ALAM SEBAGAI WARISAN

DAN MODAL NASIONAL

Dasar laut bagian barat indonesia dikenal dengan paparan sunda

Dasar laut sebelah selatan indonesia dikenal dengan paparan sahul

Pertumbuhan penduduk 2 atau 3% dan pertumbuhan ekonomi 4 atau 5% setahun, jikalau diproyeksikan pada tata lingkungan fisik yang mengalami hambatan-hambatan dimensi yang begitu cepat, dan pembatasan-pembatasan kuantitatif sumberdaya alam yang mutlak, menempatkan manusia pada dua problema pengelolaan bersifat global ialah :

1. Pengelolaan dari kualitas dan penggunaan tata lingkungan fisik misalnya udara, air dan tanah.

2. Pengelolaan dari hasil-hasil serta sumber-sumber produktif bumi dalam keseluruhannya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang pangan dan kebutuhan lain.

(hal 11)

Studi yang dilakukan Mendows dan kawan-kawannya dari MIT yang berjudul “Limits to Growth” mulai mendapat perhatian besar di seluruh dunia karena ia telah meramalkan suatu masa depan yang gelap untuk manusia dan tata lingkungannya. Mereka sampai kepada kesimpulan bahwa jikalau kecenderungan pertumbuhan dalam penduduk dunia, industrialisasi, pencemaran, produksi serta pemakaian sumberdaya alam berlaku terus tanpa adanya perubahan, maka “Limit to Growth” pada planet kita ini akan dicapai dalam 100 tahun mendatang. Hasilnya adalah suatu penurunan yang tiba-tiba serta tak terkendalikan dalam kemampuan penduduk serta kapasitas industri.

Eksplorasi ilmiah sumberdaya alam mencapai dimensi baru dengan tehnik penginderaan jauh (remote sensing) yang dipakai pada pesawat terbang serta satelit-satelit dan merupakan akselerasi dalam inventarisasi serta pengelolaan sumberdaya alam. (hal 12)

BAB II

PENGERTIAN, SIFAT, DAN DIMENSI SDA

Secara ilmiah, Sumber Daya Alam adalah semua unsur tata lingkungan biofisik yang dengan nyata atau potensial dapat memenuhi kebutuhan manusia, atau dengan kata lain, Sumber Daya Alam adalah semua bahan yang ditemukan manusia dalam alam, yan g dapat dipakai untuk kepentingan hidupnya.

Sumber Daya (resource) adalah berbagai faktor produksi yang dimobilisasikan dalam suatu proses produksi atau aktivitas ekonomi seperti modal, tenaga manusia, energi, air, mineral dan lain-lain.

Sistem Sumber Daya (resource system) adalah selruh rantai kejadian yang dijalani sumber daya, dari sumbernya sendiri melalui transformasi teknologi sampai terciptanya produk akhir dan penyampaiannya untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Sistem Sumber Daya Mineral (mineral resource system) adalah seluruh rantai kejadian yang dijalani mineral Dari suatu endapan melalui tranformasi teknologi sampai pada terciptanya produk akhir dan pencapaian untuk memenuhi kebutuhan manusia.

(hal 15)

Beberapa sifat khusus SDA yang perlu mendapat perhatian adalah :

  1. penyebaran SDA yang tidak merata;
  2. saling ketergantungan SDA – pengembangan SDA yang dilakukan akan memberikan efek yang terasa pada SDA lain;
  3. daur SDA

Akibat ekologi langsung

Kegiatan sumberdaya alam

Kegiatan penangglangan (pengendalian banjir dan sebagainya)

Akibat ekologi tidak langsung

Konsekuensi terhadap manusia (banjir, erosi)

Konsekuensi terhadap manusia (kurangnya perikanan karena aliran hilir dangkal)

Tekanan

Konsekuensi langsung terhadap manusia (pencemaran, pernapasan)

Gambar Pengembangan sumberdaya alam dan ekologi

(hal 19)

SUMBERDAYA :

berbagai faktor produksi yang dimobilisasikan dalam suatu proses produksi, atau lebih umum dalam suatu aktivitas ekonomi, misalkan modal, tenaga manusia, energi, air mineral dan lain-lain.

SUMBER DAYA ALAM PRIMER :

Sumberdaya yang terdapat dalamlingkungan (environment) alam; energi matahari, batubara, uranium, mineral, nonenergi, kayu untuk sumberdaya mineral termasuk klasifikasi geologi-eknomi dari sumberdaya (resources) dan cadangan (reserves)

SISTEM PENGOLAHAN SUMBERDAYA :

Suatu himpunan dari rantaian teknologi yang melukiskan hubungan rentetan kegiatan untuk pengadaan sumberdaya alam bagi konsumen akhir (industri, rumah tangga dan sebagainya).

@ sifat–sifat karakteristik system sumberdaya alam yang dapat mempengaruhi hubungan politik antara negara adalah :

1) penyebaran tidak seimbang;

2) ketidak pastian tentang adanya serta dapat dicapainya sumberdaya alam;

3) produksi dan penggunaan;

4) ketidakmampuan dan hambatan-hambatan mekanisme internasional untuk tukar menukar riset yang wajar;

5) timbulnya pilihan dalam substitusi sumberdaya;

6) kumpulan sumberdaya dalam rangka kemampuan financial dan sekuriti nasional;

7) variasi dan dapat diandalkannya sumberdaya;

8) variasi dalam persepsi sumberdaya;

9) pemilikan bersama sebagian ekosistem;

10) gerak sumberdaya yang melintasi perbatasan;

11) erosi kedaul;atan nasional;

12) efek pada lingkungan karena pengembangan sumberdaya alam.

(hal 29)

Dimensi Internasional Sistem Sumberdaya Alam

Sifat penyebaran geografi sumberdaya alam yang tidak merata di bumi ini serta perbedaan dalam permintaan dan utilisasinya (yang disebabkan perbedaaan dalam perkembangan ekonomi, struktur industri dan soial, cara hidup, iklim dan sebagainya), membawa akibat ketergantungan negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam pada negara lain yang dapat menjamin pengadaaan sumberdaya tersebut. (hal 34)

Salah satu aspek dimensi internasional sumberdaya alam, adalah persaingan antara perusahaan industri di berbagai negara atau persaingan antarnegara untuk mendapatkan dan mengamankan sumberdaya alam yang dibutuhkan. Persaingan dapat pula terjadi antara negara tertentu untuk mendapatkan control atas teknologi sumberdaya alam ataupun untuk mendapatkan keuntungan sosial dan ekonomi dari usaha eksploitasi mereka. (hal 34-35)

Gejala saling ketergantungan antarnegara mengenai pengadaan sumberdaya alam, karena tidak ada suatu negara pun di dunia ini yang memiliki semua sumberdaya alam di dalam batas teritoriumnya. (hal 35)

BAB III

POTENSI SUMBER DAYA ALAM INDONESIA

Potensi Sumber Daya Air

Air selau bergerak mengikuti suatu daur perputaran dan terbagi secara tidak merata menurut geografi dan musim.

Daur atau siklus hidrologi adalah siklus perjalanan air laut menjadi uap dan awan, menjadi air hujan, mengalir ke darat dan kembali lagi ke laut.

(hal 36)

Air asin 97%

Salju dan es 75%

Air permukaan 1%

Air tawar 100%

Air tanah 24%

Air tawar 3%

Air di bumi 100%

(Dari SUDARYOKO, 1976)

(hal 37)

JUMLAH SUNGAI DI INDONESIA YANG TERCATAT

(MENURUT SUDARYOKO, 1976)

Pulau

Jumlah sungai

> 40 Km

Jumlah sungai

< 40 Km

Jumlah

Jawa Madura

Sumatera

Kalimantan

Sulawesi

Irian Jaya

268

61

20

41

43

370

291

173

11

638

352

193

52

43

Jumlah

433

645

1.278

JUMLAH DAN LUAS DANAU DI INDONESIA YANG TERCATAT

(MENURUT SUDARYOKO, 1976)

Pulau

Jumlah

Luas/km2 (kira-kira)

Jawa

9

31

Sumatera

6

1.575

Kalimantan

5

1.224

Sulawesi

8

1.184

Nusa Tenggara

3

(HAL 39)

Indonesia terdiri dari 18 pulau-pulau yang besar dan 3.000 pulau-pulau kecil menutupi dataran seluas 190.435.000 hektar.

Untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, cara yang ditempuh adalah dengan melaksanakan intensifikasi (dengan panca usaha tani), ekstensifikasi, diversivikasi dan rehabilitasi.

(HAL 41)

BAB IV

MASALAH PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM INDONESIA

BAB V

ILMU DAN TEKNOLOGI SUMBER DAYA MINERAL KHUSUSNYA HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN BUMI DAN INDUSTRI MINYAK

Ilmu dan teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai fase pengembangan sumber daya alam seperti survey, eksplorasi, eksploitasi serta pengolahan sumber daya tersebut; juga dalam industrialisasi yang mamakai sumber daya sebagai bahan baku.

Berbagai macam teknologi telah dikembangkan untuk menemukan cebakan mineral yang susah ditemukan serta untuk pengolahan secara ekonomis dari bijih berkadar rendah. Sebagian besar endapan mineral tertutup oleh batuan, tanah atau air.

Endapan-endapan besar bijih besi berkadar tinggi yang terdapat 500-700m dibawah permukiman bumi telah ditemukan dengan magnetometer di berbagai tempat di dunia. Untuk menemukan endapan-endapan penting di bawah batuan sediment, diperlukan survey geofisika. Tehnik yang juga telah dikembangkan untuk menemukan endapan mineral adalah geokimiayang dengan cepat dapat mengevaluasi endapan bijih besi dengan jalan menganalisa sediment yang terdapat di sungai-sungai.

(hal 75)

Hubungan antara Lembaga Pengetahuan Bumi dan Industri Minyak

Bila kita mempersoalkan hubungan antara lembaga ilmu pengetahuan bumi dan industri minyak bumi, maka sampailah kita pada kesimpulan bhwa hubungan ini telah menguntungkan kedua belah pihak. pada satu pihak, sejumlah besar ahli dan lembaga yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan bumi di luar industri minyak bumi dan serangkaian disiplin ilmu yang terpadu dalam usaha riset oleh berbagai lembaga, telah membuahkan banyak sekali penemuan dan gagasan, sebagian dari padanya cukup revolusioner sifatnya. Di pihak lain, penyediaan modal yang luar biasa banyaknya bagi penelitian dan pengembangan, pemutakhiran peralatan, ketaatan pada rancangan dan tujuan spesifik, yang kesemuanya bertumpu pada spesialis yang bermutu tinggi sebagai cirri penelitian dan pengembangan industri minyak bumi, sering kali telah memberikan data yang tidak ternilai harganya dan pandangan yang mendalam akan sifat sesungguhnyadari permasalahan yang dihadapi.

(hal 77)

BAB VI

INVENTARISASI DAN PENILAIAN SUMBER DAYA ALAM

KHUSUSNYA MINERAL LEPAS PANTAI

  1. aspek ekologis
  2. aspek teknis
  3. potensi ekonomis

kebutuhan

Kebijaksanaan

-Pemanfaatan dan

-Pengamanan SDA

Informasi SDA perpetaan informasi sosioekonomis

Penginderaan jauh

Survey data nyata lapangan

penentuan

Laporan sosio ekonomis

Peta dasar

Studi ekologi

Survey/sensus saluran administratif

Survey kerangka matematik

Inventarisasi

interpretasi

Studi pasaran dalam dan luar negeri

Pete-peta sosio ekonomi

Peta-peta SDA

penyusunan

terpadu

evaluasi

terpadu

Gambar survey dan pemetaan terpadu

(hal 94)

BAB VII

PENDIDIKAN SAINS DI INDONESIA

DALAM KAITANNYA DENGAN SUMBERDAYA ALAM

Tujuan dan Strategi Pembangunan

Di dalam GBHN 1973, ditandaskan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila. Keselarasan, kelestarian, dan keseimbangan antara yang lahiriah serta kepuasan batiniah haruslah diusahakan. (hal 117)

Fungsi utama para ilmuwa adalah memperbaiki taraf dan kualitas kehidupan rakyat dan harus mengarahkan usaha mereka pada masalah yang rel;evan terhadap pembangunan negara serta wilayah pemukiman.

Salah satu yang diperlukan dalam pendidikan ilmuwan berorientasi pembangunan (development oriented or inward looking scientist) adalah menentukan disiplin-disiplin ilmiah yang berkaitan dengan pembangunan, mengembangkan dan menerapkannya untuk kepentingan pembangunan.

Di negara berkembang dengan keadaan iklim dan geografi seperti Indonesia, bidang-bidang seperti meteorology (khususnya peramalan cuaca untuk pertanian), oseanografi, geologi, hidrologi, ekologi, dan ilmu tentang pengelolaaan sumberdaya alam, adalah langsung berhubungan dengan pembangunan.

(hal 118)

BAB VIII

SUMBERDAYA MINERAL DAN MASALAH LINGKUNGAN HIDUP

Berdasarkan Undang-Undang no.11 Tahun 1967, kita mengenal enam macam kegiatan usaha pertambangan yaitu :

ü penyelidikan umum

ü eksploitasi

ü pengolahan

ü pemurnian

ü pengangkutan

ü pemasaran

penyelidikan umum, eksplorasi, dan pemasaran belum menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan hidup yang berarti untuk dipersoalkan.

Dalam pertambangan umum kita mengenal beberapa macam cara penambangan, yaitu penambangan dalam (under ground mining), penambangan terbuka (open pit mining), penambangan hidrolik (hidroulic mining), dan pengerukan (dredging), yang dapat dilakukan di darat maupun dilaut. (hal 135)

Vegetasi secara besar dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu hutan primer, hutan sekunder, serta perkebunan tanaman komersil seperti lada, cengkeh, kelapa dan karet. (hal 136)

BAB IX

MANAJEMEN SUMBERDAYA ALAM

KHUSUSNYA SUMBERDAYA MINERAL

Pengertian Manajemen Sumberdaya Mineral

Manajemen sumberdaya mineral : …

Secara sempit artinya adalah memberi petunjuk, pengarahan serta pembinaan pada para usahawan sumberdaya mineral bagaimana pengembangan sumberdaya tersebut dilakukan berdasarkan prinsip ekonomi dan ekologi. Ia menyangkut petunjuk tentang cara menambang dengan baik serta menerapkan prinsip konservasi pada pengolahan mineral dan perlindungan terhadap lingkungan kerja dan lingkungan hidup.

Secara lebih luas, manajemen sumberdaya mineral dapat diartikan sebagai alokasi yang wajar dari berbagai faktor produksi seperti modal, tenaga kerja, sumberdaya dan pandangan wiraswasta untuk mengoptimumkan segala macam keuntungan yang tersedia.

(hal 156)

Perusahaan Multinasional (MNC) adalah suatu organisasi yang memiliki kemungkinan mengadakan interaksi yang konstruktif dengan suatu negara, melalui pengaturan kelembagaan secara modern serta pengalihan ilmu dan pengetahuan. (hal 158)

Inti kemampuan MNC adalah sumber ilmu serta keterampilan teknologi yang tidak habis-habisnya, dan fasilitas riset yang seakan-akan tidak terhingga batasnya. Kemajuan tehnik eksplorasi, eksploitasi, transportasi yang begitu pesat seperti teknologi ruang angkasa untuk pemetaan daerah mineral, penginderaan jauh, penelitian di lautan dangkal maupun dalam, pengolahan bijih yang berkadar rendah, alat pengangkutan raksasa seperti tanker dan sebagainya, sebagian besar adalah hasil teknologi yang diciptakan oleh MNC. (hal 158-159)

Pemanfaatan sumberdaya alam untuk pembinaan kesejahteraan sosial dalam negara Indonesia yang adil dan makmur diatur dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 ayat (3) yang berbunyi :

“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. (hal 160)

Dalam bidang Penanaman Modal Asing (PMA) di bidang Pertambangan Umum, dasar hubungannya adalah melalui Kontrak Karya (KK) yang diatur dalam tiga buah peraturan perundang-undangan yang utama ialah :

1. Undang-Undang No. 1 Tahun 1967, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Penanaman Modal Asing dengan segala peraturan-peraturan tambahan dan perubahan-perubahan.

2. Undang-Undang No. 11 Tahun 1967, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, dengan segala peraturan-peraturan pelaksanaannya.

3. Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 1976, tentang Perpajakan dan Pungutan-pungutan lain di atas usaha pertambangan bukan Migas.(hal 161)

MANAJEMEN SUMBER DAYA MINERAL

SURVAI DAN EKSPLORASI

EKSPLORASI DAN BENEFISIASI

PENGOLAHAN

PENGANGKUTAN

PEMASARAN

Organization Chart

-Geologi – Tambang – Piro meta – Pengangkutan – Pasaran

Terbuka lurgi laut komoditi

– Geokimia – Tambang – Hidro meta – Pengangkutan – Perdagangan

Dalam lurgi darat (penjualan,

Pembelian,

Hedging)

– Geofisika – Tambang – Elektro meta – Pengangkutan – dll

Samudera lurgi pipa (slurry)

– Remot – dll – dll – asuransi

Sensing

Gambar Skema manajemen sumber daya mineral

(hal 167)

Kebijaksanaan pemerintah dalam system produksi yang berhubungan dengan perusahaan pertambangan milik negara dapat dilukiskan sebagai berikut :

1. Melakukan usaha kea rah intensifikasi eksplorasi sehingga cadangan mineral dapat diperbesar dan memungkinkan diversifikasi usaha untuk mengembangkan pertumbuhan perusahaan.

2. Mempertinggi efisiensi peralatan dan kegiatan produktivitas, efisiensi penggunaan barang dan penerapan teknologi mutakhir bilamana diperlukan.

3. Mengusahakan pengolahan hasil tambang menjadi bahan jadi sehingga nilai tambah “added value” dapat memperbesar pendapatan negara dan memperluas kesempatan kerja.

4. Mengadakan diversifikasi usaha, sehingga pendapatan perusahaan dan negara dapat berlangsung terus tanpa mengalami gangguan naik-turunnya (fluktuasi) harga di pasaran internasional.

5. Mengusahakan berbagai langkah guna memasuki usaha perdagangan hasil tambang dan tidak hanya memperdagangkan komoditi yang dihasilkan sendiri.

(hal 168-169)

Syarat utama untuk meningkatkan penanaman modal ialah :

a. suatu keadan geologi yang menguntungkan;

b. stabilitas politik;

c. keamanan dan sekuriti pribadi;

d. memberikan kepada investor hak untuk mengelola;

e. menghormati persetujuan atau perjanjian yang sudah dicapai dengan investor.

(hal 177)

Manajemen sumberdaya mineral adalah suatu mekanisme untuk mencapai sasaran utama ialah pengalihan sumber mineral sebagai modal nasional menjadi modal sosial yang diperlukan untuk mempertinggi kualitas sumber manusiawi.

BAB X

MENUJU SUATU KEBIJAKSANAAN

SUMBER DAYA ALAM YANG MENYELURUH

Pemanfaatan SDA untuk pembinaan kesejahteraan sosial dalan Negara Indonesia yang adil dan makmur diatur dalam pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi :

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas-asas kekeluargaan;

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam nya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

(hal 183)

Intensifikasi adalah peningkatan survai dan eksplorasi sumber energi, dengan usaha mengetahui dengan pasti potensi sumber daya energi yang secara riil dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. (hal 190)

Diversifikasi ialah mengusahakan dan menggunakan sumber energi lainnya untuk menggantikan peranan minyak bumi seperti batu bata, tenaga air, tenaga panas bumi, dan energi nuklir; selain itu perlu diteliti dan dikembangkan energi non-komersial khususnya untuk pedesaan, seperti energi surya dan angina. (hal 190)

Konservasi ialah menghemat energi secara efisien, baik dalam faktor industri dan angkutan umum dan dalam sektor rumah tangga. (hal 190)

Indeksasi ialah mengaitkan setiap kebutuhan energi dengan sesuatu jenis energi tertentu sehingga pemenuhannya dilihat secara nasional paling menguntungkan. (hal 190)

I’m

Januari 11, 2009

saya anak pertama dari empat bersaaudara, adik saya kesemuanya laki-laki, jadi saya anak perempuan satu-satunya, he…………

saya lahir di Palembang tanggal 7 november 1984.

orang tua saya bernama Ir. M. Faizal Zulkarnain dan Ir. Nur Dewi Anggraini

sejak umur 4 tahun tapatnya tahun 1988 kami sekeluarga pindah ke Bandar Lampung. jadi……. saya bersekolah di Bandar lampung, dari mulai TK di TK Tut Wwuri Handayani, SD Negeri 2 Gunung Terang, SLTP Negeri 10 Bandar Lampung, SMA Negeri 7 Bandar Lampung hingga Kuliah di Universitas Lampung Bandar Lampung FKIP jurusan IPS Program Studi Geografi.

nah, setelah lulus saya tinggal di Palembang, melamar kerja di Palembang sebagai guruu honor di SMA Negeri 3 Palembang……….

disini saaya tinggal dengan saudara……….. secara, semua keluarga besar dari paap dan maam ada di Kota Palembang, jadi saya ga dikasih kost, he…………..

Januari 6, 2009

EPISTIMOLOGI

PARADIGMA THOMAS S KUHN

DALAM SEJARAH FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

( TUGAS FILSAFAT ILMU)

OLEH

WHITA AYU MARDIA

20082013022

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PALEMBANG

2008

EPISTIMOLOGI

PARADIGMA THOMAS S KUHN

DALAM SEJARAH FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

( TUGAS FILSAFAT ILMU)

OLEH

WHITA AYU MARDIA

20082013022

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PALEMBANG

2008

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………….. 1

A. Latar Belakang ……………………………………………….. 1

B. Rumusan Masalah ……………………………………………. 3

C. Tujuan ………………………………………………………… 3

BAB II. PEMBAHASAN………………………………………………… 4

A. Biografi Thomas S Kuhn …………………………………….. 4

B. Epistimologi ………………………………………………….. 7

1. Latar Belakang Epistimologi ……………………………… 7

2. Sejarah Epistimologi ………………………………………. 8

3. Pengertian Epistimologi …………………………………… 14

4. Pokok Bahasan Epistimologi ……………………………… 17

5. Hubungan Epistimologi dengan Ilmu-Ilmu Lain ………….. 18

6. Urgensi Epistimologi ……………………………………… 19

C. Ilmu Pengetahuan …………………………………………….. 7

D. Pengertian Paradigma ………………………………………… 25

E. Filsafat ………………………………………………………… 27

F. Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial ……………………………… 29

G. Pandangan Kuhn tentang perkembangan Ilmu ……………………. 31

1. Pra-Paradigma …………………………………………………………… 32

2. Paradigma Normal Science …………………………………………. 33

3. Krisis Revolusi ………………………………………………………….. 34

H. Komentar Singkat tentang Konsep Science Kuhn ……………….. 38

BAB III. KESIMPULAN


BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama sejarah peradaban barat, filsafat sebagai studi kebijaksanaan dipandang sebagai segala hal. Filsafat dipahami mulai dari sikap pribadi orang terhadap dunia disekitarnya sampai kepada seluruh jumlah pengetahuan manusia seperti Aristoteles yang menulis tentang etika, politik, biologi dan sebagainya. Hasil penafsiran pengalaman kefilsafatan tertuang dalam lukisan yang benar, penyelidikan yang kritis, logis dan tepat mengenai kategori-kategori, sehingga pelukisan pengalaman itu tidak saja semata-mata deskripsi fakta tetapi sekaligus menjelaskannya.

Salah satu cara untuk mengungkap pengetahuan adalah dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan suatu perangkat yang dibentuk dengan mengikuti prosedur-prosedur tertentu, dimulai dari rangkaian pengamatan-pengamatan tentang suatu objek atau masalah sehingga menggambarkan pelukisan secara sistematis tentang suatu objek serta kemungkinan penyelesaiannya (hipotesa). Seorang ilmuwan harus mempersiapkan segalanya untuk pengamatan-pengamatan yang akan dilakukannya. Ia membuat alat-alat, memprediksikan dan mencoba mengendalikan apa yang mungkin/akan terjadi. Jika pengamatan yang terus menerus dilakukan tersebut sesuai dengan hipotesa yang diajukan, barulah hasil pengamatan tersebut menjadi hukum. Hukum kebenaran itu bersifat probabilitas dan bukannya kebenaran mutlak, karena pengamatan berikutnya mungkin sekali tidak mengukuhkan hipotesa tersebut.

Filsafat ilmu sebagai disiplin yang mandiri baru hadir pada tahun 1920-an, sebelumnya pemikiran kefilsafatan tentang ilmu dapat dikatakan lebih merupakan produk sampingan pengembangan epistimologi. Tampaknya kemandirian filsafat ilmu disebabkan atau didorong oleh perkembangan ilmu, khususnya ilmu-ilmu alam yang sangat cepat dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Perubahan-perubahan kemasyarakatan yang fundamental, meluas serta cepat yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam berbagai bidang telah memunculkan berbagai masalah dan krisis kemasyarakatan dan menyebabkan sejumlah ilmuwan dan filsuf memberikan perhatian khusus terhadap ilmu. Perhatian khusus untuk memunculkan filsafat ilmu sebagai disiplin yang mandiri dengan tokoh-tokoh dan aliran-alirannya. Tiap-tiap aliran memunculkan ajaran ilmu yakni teori-teori yang memuat rumusan tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi sebuah kegiatan intelektual untuk dapat dikualifikasikan sebagai ilmu atau ilmiah. Arief Sidharta yang mengkategorikan aliran filsafat ilmu kedalam aliran internal dan aliran eksternal. Aliran internal yang melihat proses ilmu dari dalam dan sebaliknya aliran eksternal melihat proses perkembangan ilmu dari sisi luar perangkat ilmu yang dipergunakan.

Aliran filsafat ilmu lain yang berpengaruh adalah aliran Rasionalisme Kritis, menurut aliran ini pengetahuan ilmiah harus objektif dan teoritikal dan pada analisis terakhir merupakan penggambaran dunia yang dapat diobservasi.

Berdasarkan pemikiran menurut aliran rasionalisme kritis, putusan ilmiah harus memenuhi syarat-syarat:

1. Harus dapat diuji secara empiris;

2. Teori ilmiah harus tersusun secara logis konsisten;

3. Putusan ilmiah harus sebanyak mungkin difalsifikasi artinya rumusan secara prinsip harus mungkin difalsifikasi. Jika putusan ilmiah itu mampu bertahan maka putusan itu dianggap benar untuk sementara.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, bahwa perubahan-perubahan kemasyarakatan yang fundamental, dan meluas serta cepat yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu dan teknologi dalam berbagai bidang telah memunculkan berbagai masalah dan krisis kemasyarakatan dan menyebabkan sejumlah ilmuwan dan filsuf memberikan perhatian khusus terhadap ilmu, maka beberapa pandangan yang telah menguraikan tentang pengertian filsafat ilmu seperti tersebut di atas.

B. Rumusan Masalah

1. Siapakah Kuhn ?

2. Apakah yang dimaksud dengan Epistimologi ?

3. Apakah yang dimaksud dengan Paradigma ?

4. Bagaimanakah Paradigma Kuhn ?

5. Bagaimana awal munculnya Paradigma Kuhn (epistimologi paradigma kuhn)?

C. Tujuan

­Tujuan dari makalah ini untuk mengetahui :

1. Siapa Kuhn.

2. Apa yang dimaksud dengan epistimologi.

3. Apa yang dimaksud dengan Paradigma.

4. Bagaimana Paradigma Kuhn.

5. Bagaimana awal munculnya Paradigma Kuhn (epistimologi paradigma kuhn).

BAB II. PEMBAHASAN

A. Biografi Thomas S Kuhn

Thomas Samuel Kuhn adalah seorang Amerika yang menulis secara intelektual pada sejarah ilmu pengetahuan dan mengembangkan beberapa palen penting dalam filsafat ilmu.

Thomas Samuel Kuhn dilahirkan pada tanggal 18 Juli 1922, di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Kuhn telah menikah dua kali, pertama ke Kathryn Muhs (dengan tiga anak-anak) dan kemudian kedua Jehane Barton (Jehane R. Kuhn). Thomas Kuhn meninggal pada hari Senin, 17 Juni 1996, pada usia 73 di rumahnya di Cambridge, Massachusetts. Dia didianosis menderita kanker.

Dia menerima Ph. D. (dalam fisika dari Harvard University pada tahun 1949 dan sebagai asisten profesor dari pendidikan umum dan sejarah ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1956, Kuhn yang diterima di University of California – Berkeley, di mana pada tahun 1961 ia menjadi profesor penuh sejarah ilmu (Sejarah Sains). Pada tahun 1962, Kuhn sempat menulis sebnuah buku.

Pada tahun 1964, ia bergabung di Princeton University sebagai Profesor M. Taylor Pyne dari Filosofi Sejarah dan Sains.

Tahun 1979 ia kembali ke Boston, kali ini ke Massachusetts Institute of Technology sebagai Laurance Rockefeller S. Professor of Philosophy / profesor dari filosofi dan sejarah ilmu pengetahuan sampai tahun 1991.

Kuhn menyatakan bahwa ilmu tidak stabil, kumulatif akuisisi pengetahuan, ilmu adalah “serangkaian interludes damai punctuated oleh intelektual revolutions kekerasan”.

Kuhn yang mempopulerkan istilah paradigma, dimana ia digambarkan sebagai dasarnya kumpulan kepercayaan bersama oleh para ilmuwan, serangkaian perjanjian mengenai bagaimana masalah ini harus dipahami.

Menurut Kuhn, paradigma penting untuk penyelidikan ilmiah, untuk “sejarah alam tidak dapat diinterpretasikan karena ketiadaan setidaknya beberapa implisit tubuh intertwined teori dan metodologi kepercayaan yang memungkinkan pemilihan, evaluasi, dan kritik.

Argumen Kuhn yang mendasar dan khas adalah bahwa pola pembangunan yang matang ilmu adalah berturut-turut transisi dari satu paradigma ke lain melalui proses revolusi.

Kuhn menyatakan bahwa revolusi ilmiah adalah pembangunan noncumulative episode di mana sebuah paradigma lama diganti seluruhnya atau sebagian oleh bertentangan baru. Tetapi paradigma baru tidak dapat dibangun sebelumnya. Namun hanya dapat menggantikan, untuk “normal-tradisi ilmiah” yang muncul dari revolusi ilmiah tidak hanya bertentangan tapi sebenarnya tdk dpt dibandingkan dengan apa yang telah ada sebelumnya. Revolutions dekat dengan total kemenangan untuk salah satu dari dua menentang kamp.

Thomas Kuhn yang bernama Guggenheim Fellow di 1954 dan merupakan penghargaan George Sarton Medali di Sejarah Sains pada tahun 1982. Dia memegang gelar kehormatan dari lembaga-lembaga yang termasuk Columbia University dan dari universitas Notre Dame, Chicago, Padua, dan Athens.

Thomas Samuel Kuhn

Filosofi Barat

Filsafat abad-20

Nama lengkap

Thomas Samuel Kuhn

Kelahiran

Cincinnati, Ohio

Kematian

17 Juni 1996 (umur 73)

Sekolah / Tradisi

Filsafat ilmu

Minat Utama

Filsafat ilmu

Ide terbaik

“Normal” science “Normal” ilmu

Rekaman berisi kata-kata terakhir dari Niels Bohr tertangkap di tape. [Kutipan diperlukan] Pada tahun 1994, Kuhn telah didiagnosis dengan kanker yang berhubungan dgn cabang tenggorokan tabung, di mana dia meninggal pada tahun 1996.

The Scientific Revolutions (SSR), Kuhn menyatakan bahwa ilmu tidak berlangsung melalui linear akumulasi pengetahuan baru, tetapi undergoes periodik revolutions, juga disebut “paradigma shift” (walaupun dia tidak mencipta ungkapan), [2] di yang sifat penyelidikan ilmiah dalam bidang tertentu yang tiba-tiba diwujudkan.

Secara umum, ilmu rusak ke dalam tiga tahapan.

Sebelumnya, yang tidak sebuah pusat paradigma, lebih dulu.

“. Ini diikuti oleh “normal sains”, ketika para ilmuwan mencoba untuk memperbesar pusat oleh paradigma “puzzle-solving”.

Dengan demikian, akibat kegagalan untuk mengikuti ke paradigma dianggap sebagai tidak refuting paradigma, tetapi karena kesalahan dari peneliti, kontra Popper’s refutability kriteria.

Tdk normal sebagai hasil membangun, ilmu mencapai krisis, di mana titik paradigma baru, yang subsumes lama hasil bersama-sama dengan hasil tdk normal menjadi satu kerangka, yang diterima.

Ini adalah istilah ilmu revolusioner.

Dalam SSR, Kuhn juga berpendapat bahwa saingan paradigma yang tak dpt dibandingi-yaitu, tidak mungkin untuk memahami satu paradigma melalui kerangka konseptual dan terminologi lain yang bersaingan paradigma.

B. Epistimologi

1. Latar Belakang Epistimologi

Epistemologi (teori pengetahuan) mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia, termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat gamblang. Karena itu Epistimologi merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi, akan tetapi, ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar, diletakkan setelah epistemologi.

Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri, akan tetapi, begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam, misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa, kenon-materian jiwa, dan makrifat jiwa. Pengindraan, persepsi, dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal, objek akal, akal teoritis dan praktis, wujud pikiran, dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. Namun belakangan ini, di Islam, epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat, objek luar, dan realitas eksternal.

Pembahasan mengenai Epistimologi dilatarbelakangi karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. Dengan demikian, sebagian pemikir tidak lagi menganggap valid indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan valid yang rasional. Namun pada sisi lain, para pemikir sendiri berbeda pendapat dalam banyak persoalan mengenai akal dan rasionalitas. Keberadaan argumentasi akal yang saling kontradiksi dalam masalah-masalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal.

Dengan alasan itu, persoalan epistemologi dipandang sangat serius sedemikian sehingga filosof Yunani, Aristoteles, berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas akal dan indra lahir sedemikian sehingga untuk kedua kalinya berakibat memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa, dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik, lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. Pada era tersebut, epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris.

2. Sejarah Epistimologi

Pranarka menyatakan bahwa sejarah epistemologi dimulai pada zaman Yunani kuno, ketika orang mulai mempertanyakan secara sadar mengenai pengetahuan dan merasakan bahwa pengetahuan merupakan faktor yang amat penting yang dapat menentukan hidup dan kehidupan manusia. Pandangan itu merupakan tradisi masyarakat dan kebudayaan Athena. Tradisi dan kebudayaan Spharta, lebih melihat kemauan dan kekuatan sebagai satu-satunya faktor. Athena mungkin dapat dipandang sebagai basisnya intelektualisme dan Spharta merupakan basisnya voluntarisme.

Zaman Romawi tidak begitu banyak menunjukkan perkembangan pemikiran mendasar sistematik mengenai pengetahuan. Hal itu terjadi karena alam pikiran Romawi adalah alam pikiran yang sifatnya lebih pragmatis dan ideologis.

Masuknya agama Nasrani ke Eropa memacu perkembangan epistemologi lebih lanjut, khususnya karena terdapat masalah hubungan antara pengetahuan samawi dan pengetahuan manusiawi, pengetahuan supranatural dan pengetahuan rasional-natural-intelektual, antara iman dan akal. Kaum agama di satu pihak mengatakan bahwa pengetahuan manusiawi harus disempurnakan dengan pengetahuan fides, sedang kaum intelektual mengemukakan bahwa iman adalah omong kosong kalau tidak terbuktikan oleh akal. Situasi ini menimbulkan tumbuhnya aliran Skolastik yang cukup banyak perhatiannya pada masalah epistemologi, karena berusaha untuk menjalin paduan sistematik antara pengetahuan dan ajaran samawi di satu pihak, dengan pengetahuan dan ajaran manusiawi intelektual-rasional di lain pihak. Pada fase inilah terjadi pertemuan dan sekaligus juga pergumulan antara Hellenisme dan Semitisme. Kekuasaan keagamaan yang tumbuh berkembang selama abad pertengahan Eropa tampaknya menyebabkan terjadinya supremasi Semitik di atas alam pikiran Hellenistik. Di lain pihak, orang merasa dapat memadukan Hellenisme yang bersifat manusiawi intelektual dengan ajaran agama yang bersifat samawi-supernatural. Dari sinilah tumbuh Rasionalisme, Empirisme, Idelisme, dan Positivisme yang kesemuanya memberikan perhatian yang amat besar terhadap problem pengetahuan.

Selanjutnya, Pranarka menjelaskan bahwa zaman modern ini telah membangkitkan gerakan Aufklarung, suatu gerakan yang meyakini bahwa dengan bekal pengetahuan, manusia secara natural akan mampu membangun tata dunia yang sempurna. Optimisme yang kelewat dari Aufklarung serta perpecahan dogmatik doktriner antara berbagai macam aliran sebagai akibat dari pergumulan epistemologi modern yang menjadi multiplikatif telah menghasilkan suasana krisi budaya.

Semua itu menunjukkan bahwa perkembangan epistemologi tampaknya berjalan di dalam dialektika antara pola absolutisasi dan pola relativisasi, di mana lahir aliran-aliran dasar seperti skeptisisme, dogmatisme, relativisme, dan realisme. Namun, di samping itu, tumbuh pula kesadaran bahwa pengetahuan itu adalah selalu pengetahuan manusia. Bukan intelek atau rasio yang mengetahui, manusialah yang mengetahui. Kebenaran dan kepastian adalah selalu kebenaran dan kepastian di dalam hidup dan kehidupan manusia.

Epistimologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan

Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. Skeptisisme diwakili oleh pemikiran David Hume, sementara relativisme nampak pada pemikiran Immanuel Kant.

Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. Konstruksi pemikiran filsafat Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga mampu memberikan solusi universal yang mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu, yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur) dan penegasan (at-tashdiq), atau hushûlî dan hudhûrî, macam-macam ilmu hudhûrî, dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi.

a. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat

Perjalanan sejarah filsafat Barat terbagi dalam tiga zaman tertentu (Yunani kuno, abad pertengahan, dan modern) dan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat, maka secara implisit dapat dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosof-filosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi.

Hal yang perlu digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. Akan tetapi dalam kajian filsafat pasca itu, epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dengan ontologi dikaji secara sekunder. Dan epistemologi setelah Renaissance dan Descartes mengalami suatu perubahan baru.

b. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno

Berdasarkan penulis sejarah filsafat, orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides. Hal ini karena Parmenidies menempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. Pada dasarnya Parmenidies mengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu, akal dipandang sebagai yang valid, sementara indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu.

Heraklitus berbeda dengan Parmenides, ia menekankan pada indra lahir. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus menerus pada segala sesuatu, maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil, karena ilmu meharuskan kekonstanan dan ketetapan, akan tetapi, dengan keberadaan hal-hal yang senantiasa berubah itu, maka mustahil terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. Oleh karena itu, sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme.

Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal, hal ini karena terdapat kontradiksi-kontradiksi pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir.

Pythagoras berkata, “Manusia merupakan parameter segala sesuatu, tolok ukur eksistensi segala sesuatu, dan ketiadaan segala sesuatu. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran.

Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada, apabila ia ada, maka mustahil diketahui, kalau pun iabisa dipahami, namun tidak bisa dipindahkan.

Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis yang lantas bangkit mengkritisi pemikiran-pemikiran mereka, dan dengan cara induksi dan pendefinisian, ia berupaya mengungkap hakikat segala sesuatu. Ia memandang bahwa hakikat itu tidak relatif dan nisbi.

Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak akan pernah mengantarkan pada pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu ia bagi menjadi sifat-sifat majasi dimana dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna dan sifat-sifat hakiki seperti bentuk dan ukuran. Pembagian sifat ini kemudian menjadi perhatian para filosof dan sumber lahirnya berbagai pembahasan.

Plato, murid Socrates, ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan mendasar pengetahuan indriawi itu ialah terletak pada perubahan objek indra. Ia juga berkeyakinan, karena pengetahuan hakiki semestinya bersifat universal, pasti, dan diyakini, maka objeknya juga harus tetap dan konstan, dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek makrifat hakiki. Oleh karena itu, pengetahuan indriawi bersifat keliru, berubah, dan tidak bisa diyakini, sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini, universal, tetap, dan bersifat pasti. Dengan dasar ini, ia kemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal).

Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah keyakinan benar yang bisa diargumentasikan, dimana pengetahuan jenis ini terkait dengan hal-hal yang konstan. Pengetahuan-pengetahuan selain ini ialah bersifat prasangka, hipotesa, dan perkiraan belaka. Begitu pula, definisi plato tentang pengetahuan dan makrifat lantas menjadi perhatian serius para epistemolog kontemporer. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan kesalahan, melainkan kekeliruan itu bersumber dari kesalahan penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi.

Aristoteles, murid Plato, lebih menekankan penjelasan ilmu dan pembuktian asumsi-asumsinya dari pada menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan probabilitas pengetahuan. Ia yakin bahwa setiap ilmu berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain, akan tetapi, proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang yang tak lagi membutuhkan pembuktian rasional. Dalam hal ini, prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah pertama yang sangat gamblang yang diketahui secara fitrah. Ia menetapkan penggambaran universal, abstraksi, dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. Ia menyusun ilmu logika dengan tujuan menetapkan suatu metode berpikir dan berargumentasi secara benar dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi), dengan demikian, pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil.

Kelompok Rawaqiyun yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir, menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato tersebut. Mereka beranggapan bahwa pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) itu sebagai tolok ukur kebenaran, juga meyakini penalaran rasionalitas.

Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya, dengan perspektif ini, ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid.

Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. Sebagian dari mereka bahkan menolak secara mutlak adanya kebenaran dan sebagian lain memandang kemustahilan pencapaiannya. Perbedaan kaum Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua).

Akhirnya, epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. Dan semua persoalan, keraguan, jawaban, dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan, sumber ilmu, dan tolak ukur kesesuaian dengan realitas eksternal.

c. Epistemologi pada Abad Pertengahan

Abad pertengahan dimulai dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas. Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya, disamping itu, juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran.

Plotinus, penggagas maktab neo platonisme, di abad ketiga masehi melontarkan gagasan-gagasan penting dalam epistemologi. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition):

1 Persepsi panca indra (sensuous perception), berkaitan dengan hal-hal yang lahir

2 Pengertian (understanding), berkaitan dengan argumentasi

3 Akal (logos, intellect), berkaitan dengan akal, bisa memahami hakikat ‘kesatuan dalam kejamakan’ dan ‘kejamakan dalam kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asy-syuhud).

Tingkatan pertama berkaitan, tingkatan kedua adalah, dan sebagai tingkatan ketiga Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis, di samping itu ia memandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisi-proposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. Pengetahuan indriawi itu, karena objeknya senantiasa berubah, tidak tergolong sebagai makrifat hakiki. Dalam pandangannya, ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri, karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu, oleh karena itu, saya ada“.

http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan/

3. Pengertian Epistimologi

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi)

Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi sebagai “The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity”. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan bahwa epistemologi adalah “the theory of knowledge.” Pada tempat yang sama ia menerangkan bahwa epistemologi merupakan “the branch of philosophy which concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and the general reliability of claims to knowledge.”

(http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-35.html)

Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.

Gerakan epistemologi di Yunani dahulu dipimpin antara lain oleh kelompok yang disebut Sophis, yaitu orang yang secara sadar mempermasalahkan segala sesuatu. Dan kelompok Shopis adalah kelompok yang paling bertanggung jawab atas keraguan itu.

Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang agak dekat dengan episteme sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya.

Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.

Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis (http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Epistemologi)

Epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia (Isyraq. 2007).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Epistimologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan.

4. Pokok Bahasan Epistemologi

Melalui pemahaman dari definisi epistemology, dapat dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu, makrifat dan pengetahuan. Untuk itu ada dua hal yang penting dijelaskan:

1 Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut:

a Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki, sains, teknologi, keterampilan, kemahiran, dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî, hushûlî, ilmu Tuhan, ilmu para malaikat, dan ilmu manusia.

b Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî.

c Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik).

d Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini.

e Ilmu adalah pembenaran yang diyakini.

f Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal.

g Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan.

h Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi.

i Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik.

j Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik.

2 Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan psikologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu.

Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi ilmu, dan batasan-batasan pengetahuan. Dan dari sisi ini, ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Dengan demikian, ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi.

5. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu-Ilmu Lain

a. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika.

Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar, yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. Dengan memperhatikan definisi ini, bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah, karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan, maka mustahil kita membahas tentang metode akal untuk mengungkap suatu hakikat dan bahkan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu logika masih perlu dipertanyakan dan rekonstruksi, walhasil masih menjadi hal yang diragukan.

b. Hubungan epistemologi dengan Filsafat.

Pengertian umum filsafat adalah pengenalan terhadap eksistensi (ontologi), realitas eksternal, dan hakikat keberadaan. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi. Dalam dua pengertian tersebut, telah diasumsikan mengenai kemampuan, kodrat, dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Jadi, epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat.

c. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir.

Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisi-proposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. Jadi, epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut, khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama, atau akal dan agama, atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik, karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi.

(http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan/)

6. Urgensi Epistimologi

Jika diperhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya, maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi, terkhusus lagi apabila menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan, keraguan, dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika, fiqih, penafsiran, dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari semua pembahasan tersebut berpijak pada epistemologi.

Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak pada potensi akal-pikiran. Rahasia kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti menjadi maujud yang berakal dan mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan iradahnya terwujud melalui pancaran petunjuk akal. Hal ini berarti bahwa jika akal dan rasionalitasnya dipisahkan dari kehidupannya, maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewanannya, dengan demikian, segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya.

Manusia ialah maujud yang berakal dan seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan, maka dari itu, suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan pengetahuan dan akal manusia, dimana hal itu merupakan pembatas substansial antara manusia dengan hewan.

Jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis, karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia, maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan akal belum ditegaskan, maka tidaklah berguna pengakuan akal dalam mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia, dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah inti pembahasan epistemologi. Dengan begitu, sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis, langkah pertama yang mesti diambil dalam menyelesaikan masalah adalah membedah persoalan-persoalan epistemologi.

Berkenaan dengan urgensi epistemologi, seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran , Murthada Muthahhari berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. Muncul suatu pertanyaan, mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya, penyebab lahirnya perbedaan-perbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masing-masing. Hal ini karena, semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. Ideologi menyatakan kepada kita bagaimana hidup semestinya. Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia, itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. Ideologi seperti filsafat praktis, sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber dari perbedaan dasar-dasar pengenalan, pengetahuan, dan epistemologi“.

(http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan/)

C. Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang berarti ilmu. Atau dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah pengakajian sejumlah penrnyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta dan ditinjau yang disusun secara sitematis dan terbentuk menjadi hukun-hukum umum.

Dari definisi diatas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang dirumuskan secara sistematis, dapat diterima oleh akal melalui pembuktian-pembuktian empiris. Keberadaaan ilmu timbul karena adanya penelitian-penelitian pada objek- objek yang sifatnya empiris.

Terjadinya Pengetahuan

Vauger menyatakan bahwa titik tolak penyelidikan epistemologi adalah situasi kita, yaitu kejadian. Kita sadar bahwa kita mempunyai pengetahuan lalu kita berusaha untuk memahami, menghayati dan pada saatnya kita harus memberikan pengetahuan dengan menerangkan dan mempertanggung jawabkan apakah pengetahuan kita benar dalam arti mempunyai isi dan arti.

Bertumpu pada situasi kita sendiri itulah sedikitnya kita dapat memperhatikan perbuatan-perbuatan mengetahui yang menyebabkan pengetahuan itu. Berdasarkan pada penghayatan dan pemahaman kita dan situasi kita itulah, kita berusaha untuk mengungkapkan perbuatan-perbuatan mengenal sehingga terjadi pengetahuan.

Akal sehat dan cara mencoba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagi gejala alam. Ilmu dan filsafat dimulai dengan akal sehat sebab tidak mempunyai landasan lain untuk berpijak. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat. Randall dan Buchlar mendefinisikan akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan. Sedangkan karakteristik akal sehat, menurut Titus, adalah (1). Karena landasannya yang berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan, (2). Karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cenderung untuk bersifat kabur dan samar, dan (3). Karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebih lanjut maka akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji.

Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Menurut Popper, tahapan ini adalah penting dalam sejarah berpikir manusia yang menyebabkan ditinggalkannya tradisi yang bersifat dogmatik yang hanya memperkenankan hidupnya satu doktrin dan digantikan dengan doktrin yang bersifat majemuk yang masing-masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis yang bersifat kritis.

Dengan demikian berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode ini dikembangkan lebih lanjut oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam. Semangat untuk mencari kebenaran yang dimulai oleh para pemikir Yunani dihidupkan kembali dalam kebudayaan Islam. Dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang Muslimlah, dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen yang berasal dari Timur ini mempunyai pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia, sebab dengan demikian berbagai penjelasan teoritis dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif.

Kebenaran Pengetahuan

Jika seseorang mempermasalahkan dan ingin membuktikan apakah pengetahuan itu bernilai benar, menurut para ahli estimologi dan para ahli filsafat, pada umumnya, untuk dapat membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang harus menganalisa terlebih dahulu cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu pengetahuan. Seseorang yang memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indera akan berbeda cara pembuktiannya dengan seseorang yang bertitik tumpu pada akal atau rasio, intuisi, otoritas, keyakinan dan atau wahyu atau bahkan semua alat tidak dipercayainya sehingga semua harus diragukan seperti yang dilakukan oleh faham skeptisme yang ekstrim di bawah pengaruh Pyrrho.

Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kebenaran, antara lain sebagai berikut:

1. The correspondence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya.

2. The consistence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kebenaran ditegaskan atas hubungan antara yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kita akui benarnya terlebih dahulu.

3. The pragmatic theory of truth. Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.

Dari tiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa kebenaran adalah kesesuaian arti dengan fakta yang ada dengan putusan-putusan lain yang telah kita akui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.

Sedangkan nilai kebenaran itu bertingkat-tingkat, sebagai mana yang telah diuraikan oleh Andi Hakim Nasution dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, bahwa kebenaran mempunyai tiga tingkatan, yaitu haq al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan ‘ilm al-yaqin. Adapun kebenaran menurut Anshari mempunyai empat tingkatan, yaitu:

1. Kebenaran wahyu

2. Kebenaran spekulatif filsafat

3. Kebenaran positif ilmu pengetahuan

4. Kebenaran pengetahuan biasa.

Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah. Jadi, apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Karena itu, kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-rubah dan berkembang (http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-35.html)

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang (approach), metode (method), dan sistem tertentu (Soetriyono dan Rita, 2007:12).

Ilmu pengetahuan diciptakan manusia karena didorong oleh rasa ingn tahu manusia yang tidak berkesudahan terhadap obyek, pikiran, atau akal budi yang menyangsikan kesaksian indra, karena indra sering menipu. Kesangsian akal budi ini lalu diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan : apakah sesuatu itu, mengapa sesuatu itu ada, bagaimana keberadaannya dan apa tujuan keberadaannya? Masing-masing pertanyaan itu akan menghasilkan :

ü Ilmu pengetahuan filosofis yang mempersoalkan hakiakt atau esensi sesuatu (pengetahuan universal),

ü Ilmu pengetahuan kausalistik, artinya selalu mencari sebab-musabab keberadannya (pengetahuan umum bagi suatu jenis benda),

ü Ilmu pengatahuan yang bersifat deskriptif-analitik, yaitu mencoba memahami norma suatu obyek yang dari sana akan tergambar tujuan dan manfaat dari obyek tersebut.

D. Pengertian Paradigma

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962) dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik. Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.

Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi. Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas. Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan. Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan; (1) apa yang harus dipelajari; (2) persoalan-persoalan apa yang harus dijawab; (3) bagaimana metode untuk menjawabnya; dan (4) aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :

1. Cara memandang sesuatu,

2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan, dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.

3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan menentukan atau mendefinisikan sutau study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.

4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Dalam “The structure of Science Revolution”, Kuhn menggunakan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keseluruan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang masih tersisa.  Paradigma merupakan suatu keputusan yudikatif dalam hukum yang tidak tertulis.

Secara singkat pengertian pradigma adalah Keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

E. Filsafat

Filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997). Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.

Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya. (http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/)

Filsafat ilmu menjelaskan tentang duduk perkara ilmu atau science itu, apa yang menjadi landasan asumsinya, bagaimana logikanya (doktrin netralistik etik), apa hasil-hasil empirik yang dicapainya, serta batas-batas kemampuannya.

Paradigma Filsafat. Paradigma filsafat terbagi menjadi :

ü Paradigma Modernisme, mempersentasikan bersatunya unsur-unsur dari orientasi yang berbeda-beda dan bahkan bertentangan (Resenau (1992) dalam Soetriyono dan Rita (2007:29)).

ü Paradigma Postmodernisme. Tidak memperhatikan tapal batas yang ketat dari isme yang membatasi isme yang satu dengan isme yang lain. Dalam melihat realitas, Postmodernisme cenderung untuk mengatakan bahwa tidak ada alat yang cukup untuk mempresentasikan realitas. Ia juga menolak pandangan realitas yang mengasumsikan adanya kebebasan (independen) dari proses mental individual dan komunikasi intersubyektif (Resenau, 1992. dalam Soetriyono dan Rita (2007:29)).

ü Paradigma Interpretif. Dalam pendekatan interpretif telah dipasang rambu-rambu bahwa prinsip-prinsip yang terdapat dalam ilmu alam tidak bisa diambil dan dimasukkan begitu saja saja ke dalam ilmu-ilmu sosial.

ü Paradigma Kritikal. Menurut Triwiyono (1998:4) dalam Soetriyono dan Rita (2007:35), paradigma kritikal merupakan paradigma yang menganggap bahwa penelitian merupakan alat yang digunakan untuk engekspose hubungan nyata (real relation) yang di bawah ”permukaan” mengungkap mitos dan ilusi, dan menekankan pada usaha menghilangkan kepercayaan dan ide-ide yang salah, menekankan pada pembebasan dan pemberdayaan. Paradigma ini memandang realitas sosial sebagai realitas yang sangat kompleks (yang tampak dan nyata), penuh dengan kontradiksi, konflik, tekanan dan eksploitasi, sehingga tidak mengherankan bila ilmu pengetahuan dipandang sebagai alat yang digunakan untuk membebaskan dan memberdayakan manusia dan juga menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas dari nilai (not value free).

F. Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial

Menurut Kuhn, perkembangan ilmu tidak selalu berjalan linear, karena itu tidak benar kalau dikatakan perkembangan ilmu itu bersifat kumulatif. Penolakan Kuhn didasarkan pada hasil analisisnya terhadap perkembangan ilmu itu sendiri yang ternyata sangat berkait dengan dominasi paradigma keilmuan yang muncul pada periode tertentu. Bahkan bisa terjadi dalam satu waktu, beberapa metode pengetahuan berkembang bersamaan dan masing-masing mengembangkan disiplin keilmuan yang sama dengan paradigma yang berlainan. Perbedaan paradigma dalam mengembangkan pengetahuan, menurut Kuhn, akan melahirkan pengetahuan yang berbeda pula. Sebab bila cara berpikir (mode of thought) para ilmuwan berbeda satu sama lain dalam menangkap suatu realitas, maka dengan sendirinya pemahaman mereka tentang realitas itu juga menjadi beragam. Konsekwensi terjauh dari perbedaan mode of thought ini adalah munculnya keragaman skema konseptual pengembangan pengetahuan yang kemudian berakibat pula pada keragaman teori-teori yang dihasilkan.

Mengacu pada Kuhn, dapat dikatakan bahwa paradigma ilmu itu amat beragam. Keragaman paradigma ini pada dasarnya adalah akibat dari perkembangan pemikiran filsafat yang berbeda-beda sejak zaman Yunani. Sebab sudah dapat dipastikan, bahwa pengetahuan yang didasarkan pada filsafat Rasionalisme akan berbeda dengan yang didasarkan Empirisme, dan berbeda dengan Positivisme, Marxisme dan seterusnya, karena masing-masing aliran filsafat tersebut memiliki cara pandang sendiri tentang hakikat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang kebenaran.

Menurut Ritzer (1980), perbedaan aliran filsafat yang dijadikan dasar berpikir oleh para ilmuwan akan berakibat pada perbedaan paradigma yang dianut. Paling tidak terdapat tiga alasan untuk mendukung asumsi ini; (1) pandangan filsafat yang menjadi dasar ilmuwan untuk menentukan tentang hakikat apa yang harus dipelajari sudah berbeda; (2) pandangan filsafat yang berbeda akan menghasilkan obyek yang berbeda; dan (3) karena obyek berbeda, maka metode yang digunakan juga berbeda.

Perbedaan paradigma yang dianut para ilmuan ternyata tidak hanya berakibat pada perbedaan skema konseptual penelitian, melainkan juga pada perbedaan produk pengetahuan. Perbedaan dimaksud dapat terlihat terutama pada tiga level yaitu pada penjernihan epistemologi, level “middle range” teori, khususnya dalam menguraikan pengetahuan ke dalam kerangka kerja teoritis; dan tingkat metode dan teknik.

Hampir semua disiplin ilmu menghadapi persoalan keragaman paradigma, terlebih lagi bidang ilmu-ilmu sosial. Sosiologi, misalnya, dapat didekati dari berbagai macam paradigma (multi paradigma). Dalam Sosiologi dikenal sejumlah paradigma sosiologi yang cukup dominan, antara lain Paradigma Fakta Sosial, Paradigma Definisi Sosial, dan Paradigma Perilaku Sosial. Keragaman paradigma ini sudah jelas memunculkan sejumlah pendekatan yang berlainan terhadap suatu obyek, baik dalam mendefinisikan hakikat obyek itu sendiri, maupun dalam cara menganalisisnya –yang hasilnya sudah dapat dipastikan akan berbeda antara satu sama lain.

G. Pandangan Kuhn Tentang Perkembangan Ilmu (Open Ended)

Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fondamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks, sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik.  Dalam teori Kuhn, faktor Sosiologis Historis serta Phsikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya,  yang dalam perkembangan ilmu tersebut adalah secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris klasik.

Kuhn memberikan image atau konsep sains alternatif dalam outline yang ia gambarkan dalam bebeapa stage, yaitu : Pra paradigma – Pra ilmu – Paradigma-Normal Science – Anomali-Krisis – Revolusi- Paradigma Baru-Ekstra ordinary Science – Anomali- Krisis – Revolusi.

Stage tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

Pra Paradigma

Paradigma

Anomali

Krisis Paradigma

Revolusi

Paradigma Baru

Berdasarkan bagan alur Paradigma Kuhn di atas dapat dijelaskan bahwa Pra Paradigma sebagai awal sebelum adanya paradigma, kemudian timbul suatu paradigma atau pandangan orang terhadap lingungan, namun dikemudin waktu, pandangan / paradigma tersebut dianggap kurang cocok lagi, ada hal yang dianggap salah dan tidak lagi sesuai, masa ini disebut oleh Kuhn sebagai masa krisis. Setelah masa krisis tersebut timbullah revolusi dan kemudian tercipta paradigma baru.

1. Pra paradigma-Pra ilmu

Pada stage ini terdapat persetujuan yang kecil bahkan tidak ada persetujuan tentang subjeck matter, problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing,  karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuan tentang suatu teori (fenomena), maka aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir.  Sejumlah aliran yang bersaing, kebanyakan diantara mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu, misalnya tentang sifat cahaya. Teori Epicurus, teori Aristoteles, atau teori Plato, satu kelompok menganggap cahaya sebagai partikel-partikel yang keluar dari benda-benda yang berwujud; bagi yang lain cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang di antara benda itu dan mata; yang lain lagi menerangkan cahaya sebagai interaksi antara medium dan yang dikeluarkan oleh mata; di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendiri-sendiri.  Sehingga sejumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri.

Walaupun aktifitas ilmiah masing-masing aliran tersebut dilakukan secara terpisah, tidak terorganisir sesuai dengan pandangan yang dianut halini tetap memberikan sumbangan yang penting kepada jumlah konsep, gejala, teknik yang dari padanya suatu paradigma tunggal akan diterima oleh semua aliran-aliran ilmuan tersebut, dan ketika paradigma tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai ditemukan. Dengan kemampuan paradigma dalam membanding penyelidikan, menentukan teknik memecahkan masalah, dan prosedur-prosedur riset, maka ia dapat menerima (mengatasi) ketergantungan observasi pada teori.

2. Paradigma normal science

Para stage ini, tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya. Dan hal inilah merupakan ciri yang membedakan antara normal science dan pra science.  Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi.
Paradigma yang membimbing eksperimen atau riset ilmiah tersebut memungkiri adanya definisi yang ketat, meskipun demkian, didalam paradigma tersebut tercakup.

Beberapa komponen tipikal yang secara eksplisit akan mengemukakan hukum-hukum dan asumsi-asumsi teoritis. Dengan demikiann, hukum “gerak” Newton membentuk sebagian paradigma Newtonian. Dan hukum “persamaan” Maxwell merupakan sebagian paradigma yang telah membentuk teori elektromagnetik klasik. Beberapa cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berbagai tipe situasi. Beberapa instrumentasi dan teknik-tekniknya yang diperlukan untuk membuat agar hukum-hukum paradigmaitu dapat bertahan dalam dunia nyata dan didalam dunia nyata dan di dalam paradigma itu sendiri.

Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisir untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. Teka-teki teoritis (dalam paradigma Newtonian) meliputi perencanaan teknik matematik untuk menangani gerak suatu planet yang tergantung pada beberapa gaya tarik dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penterapan hukum Newton pada benda cair. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.

Dalam stage ini terdapat tiga fokus yang normal bagi penelitian science faktual, yaitu :

a) Menentukan fakta yang penting

b) Menyesuaikan fakta dengan teori. Upaya menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi paradigma itu menetapkan dan menyususn masalah-masalah yang harus dipecahkan; seringkali paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam desain peralatan yang mampu memecahkan masalah tersebut.

c)  Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.

3.  Krisis Revolusi

Walaupun sasaran normal adalah memecahkan teka-teki science dan bukan mengahsilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, gejala-gejala baru dan tidak terduga berulangkali muncul dan tersingkap oleh ilmiah tersebut yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru.

Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan kelainan-kelainan antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, dan anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian, kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma (revolusi).

Anomali dipandang sebagai hal serius yang dapat menggoyahkan paradigma jika anomali tersebut :

a) Menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma dan secara gigih menentang usaha para ilmuan normal science untuk mengabaikannya.

b) Mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.

Krisis dapat diasumsikan sebagai pra kondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Pada stage ini diantara para ilmuan normal science terjadi sengketa filosofis dan metafisis. Mereka membela penemuan baru dengan argumen-argumen filosofis dari posisi dubuis dipandang dari sudut paradigma. Walaupun kemungkinan mereka kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan beberapa alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis begitu saja.  Sampai diterimanya suatu paradigma baru yang berbeda dari paradigma semula.
Setiap krisis selalu diawali dengan penngkaburan paradigma serta pengenduran kaidah-kaidah riset yang normal, sebagai akibatnya paradigma baru (paradigma rival) muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio, sebelum krisis berkembang lebih jauh atau telah diakui dengan tegas

Karya Lavoisier menyajikan kasus seperti itu. Notanya yang disegel diserahkan kepada akademi Prancis kurang dari satu tahun setelah studi pertamanya yang seksama tentang perbandingan Barat dalam teori Flegiston dan sebelum publikasi-publikasi Priestley secara tuntas menyingkap krisis dalam kimia pneumatic. Demikian halnya dengan Thomas Young tentang teori gelombang dari cahaya, muncul pada tahap awal sekali ketika krisis dalam optika sedang berkembang.
Persaingan antara paradigma yang telah dianut dan paradigma rival yang muncul, menandai adanya kegawatan suatu krisis. Paradigma-paradigma yang bersaing akan memandang berbagai macam pertanyaan sebagai hal yang sah dan penuh arti dilihat dari masing-masing paradigma. Pertanyaan-pertanyaan mengenai beratnya phlogiston adalah penting bagi para ahli teori phlogiston, tetapi hampa bagi Lavoisier. Soal “aksi” pada suatu jarak yang tidak dapat diterangkan itu, diterima oleh kaum Newton, tetapi ditolak oleh kaum Cartesian sebagai hal yang metafisis bahkan gaib. Gerak tanpa sebab adalah mustahil bagi Aristoteles, tetapi dipandang sebagai aksiomatik bagi Newton.

Setiap paradigma yang bersaing akan memandang dunia ini terbuat dari berbagai macam hal yang berlainan dan masing-masing paradigma tersebut akan melibatkan standar yang berlainan dan bertentangan dalam memandang dunia. Paradigma Aristotelian melihat alam semesta ini terbagi menjadi dua dunia dunia yang berlainan, dunia super-lunar (yang abadi dan tidak berubah-ubah) dan dunia sub-lunar (yang bisa musnah dan berubah-ubah). Paradigma yang muncul berikutnya melihat alam semesta terbuat dari bahan-bahan material yang sama.  Kuhn beragumentasi bahwa, para penyususn paradigma baru (paradigma rival) hidup di dalam dunia yang berlainan.

Oleh karena itu, dalam diskusi dan adu argumen antara pendukung paradigma yang bersaing tersebut adalah untuk mencoba meyakinkan dan bukan memaksakan paradigma. Sebab tidak ada argumen logis yang murni yang dapat mendemontrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya, yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma.
Peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuan ondividual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan “Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali). Juga disamakan dengan “religious conversion” (pertukaran agama)

Tidak adanya alasan logis yang memaksa seorang ilmuan yang melepaskan paradigmanya dan mengambil yang menjadi rivalnya karena berkenaan dengan adanya kenyataan bahwa :

a) Berbagai macam faktor terlibat dalam keputusan seorang ilmuan mengenai faedah suatu teori ilmiah.

b) Penyusun paradigma-paradigma yang bersaing menganut berbagai perangkat standar, prinsip metafisik dan lain sebagainya yang berlainan.
Keputusan seorang ilmuan individual akan tergantung pada prioritas yang ia berikan pada beberapa faktor, faktor tersebut antara lain : Kesederhanaan, Kebutuhan sosial yang mendesak, Kemampuan memecahkan problem khusus, dan Kerapihan dan kecocokan dengan permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, para pendukung paradigma tidak akan saling menerima premis lawannya dan karenanya masing-masing tidak perlu dipaksa oleh argumen rivalnya. Menurut Kuhn, faktor-faktor yang benar-benar terbukti efektif yang menyebabkan para ilmuan mengubah paradigma adalah masalah yang harus diungkap oleh penyelidikan psikologi dan sosiologi.   Karena hal itulah Kuhn dianggap sebagai seorang Relativis.

Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru yang berlawanan inilah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. Oleh karena itu, menurut Kuhn, perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif dan evolusioner tetapi, secara revolusioner, yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan. Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih memberikan janji atas kemampuannya memecahkan masalah untuk masa depan.

Melalui revolusi science inilah menurut Kuhn perkembangan ilmu akan terjadi. Dengan paradigma baru para pengikutnya mulai melihat subjek maler dari sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang semula, dan teknik metodologinya lebih unggul dibanding paradigma klasik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Berdasarkan paradigma baru inilah tradisi ektra ordinari science dilakukan oleh para komunitas ilmuan yang mendukungnya dan sampai pada tahap tertentu dapat meyakinkan para pendukung paradigma klasik tentang keberadaan paradigma baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih unggul dalam mengatasi science di masa depan.

Apabila para pendukung paradigma klasik tetap keras kepala terhadap paradigma yang dianutnya dengan berusaha melakukan upaya pemecahan-pemecahan science normal berdasarkan paradigmanya walaupun berhasil mengatasi permasalahan itu revolusi besar dan kemajuan science tidak terjadi. Mereka tetap berada dan terperangkap dalam stage normal science dan tetap sebagai ilmuan biasa.

Menurut Kuhn, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut.

H. Komentar Singkat tentang Konsep Science Kuhn

Konsep Kuhn tentang science progres yang terdapat dalam bukunya “The Structure Of Scientific Revolution yang berpusat pada paradigma, telah mendobrak adanya citra suatu pencapaian ilmiah yang absolut, atau suatu yang mempunyai kebenaran seakan-akan suigeneris dan objektif. Kuhn menyatakan bahwa, pengetahuan tidak terlepas dari ruang dan waktu.
Konsep dan pandangan Kuhn tentang science progres tersebut memungkinkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah dan zaman. Dengan konsep paradigmanya yang fleksibel dan tidak ketat di satu sisi, mampu mendukung adanya tradisi-tradisi ilmiah dan melepaskan adanya ketergantungan observasi pada teori. Di sisi lain, sifat paradigma yang tidak sempurna dan tidak terbebas dari anomali-anomali, mampu mendorong terjadinya suatu revolusi science dan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat.

Jika mengikuti model konsep Kuhn tentang perkembangan ilmu tersebut, maka adalah suatu kekeliruan serius jika seorang ilmuan hanya memegang satu paradigma klasik saja, sedang anomali-anomali menyerang paradigmanya secara fundamental, walaupun tidak ada argumen logis yang dapat memaksa ilmuan untuk melakukan konversi paradigma.

1. Paradigma lahir menurut zamannya

Setiap paradigma yang muncul adalah diperuntukkan mengatasi dan menjawab teka-teki atau permasalahan yang dihadapi pada zaman tertentu. Jika mengikuti pendapat Kuhn, bahwa ilmu pengetahuan itu terikat oleh ruang dan waktu, maka sudah jelas bahwa suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentusaja. Sehingga apabila dihadapkan pada permasalahan berbeda dan pada kondisi yang berlainan, maka perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang baru yang lebih sesuai adalah suatu keharusan.
Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial yang berparadigma ganda, usaha-usaha dalam menemukan paradigma yang lebih mampu menjawab permasalahan yang ada sesuai perkembangan zaman terus dilakukan. Perpaduan antara paradigma fakta sosial, paradigma perilaku sosial, dan paradigma definisi sosial yang masing-masing mempunyai perbedaan dan berlawanan diformulasikan dalam suatu paradigma yang utuh yang dapat memecahkan permasalahan yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan zaman. Dari hal tersebut mencerminkan adanya suatu kemajuan dalam bidang tertentu jika terjadi revolusi-revolusi yang ditandai adanya perpindahan dari paradigma klasik ke paradigma baru.

2. Aplikasi Paradigma dalam Ilmu Agama

Mungkinkan revolusi yang ditandai konversi paradigma tersebut terjadi dalam ilmu-ilmu agama? Pertanyaan itu paling tidak mengingatkan kita pada sejarah penetapan hukum oleh salah satu imam mazhab empat yang terkenal dengan qaul qadim dan jadidnya. Adanya perubahan (revolusi) tersebut terjadi karena dihadapkan pada perbedaan varian kondisi ruang dan waktu.
Berpijak pada hal tersebut dan pola yang dikembangkan Kuhn maka sudah menjadi keniscayaan untuk menemukan paradigma baru dalam menjawab permasalahan dan tantangan zaman. Paradigma yang telah dibuat pijakan oleh para ulama terdahulu yang muncul sesuai dengan varian kondisi ruang dan waktunya serta kecenderungan profesionalnya perlu dipertanyakan dengan melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi pada saat terakhir ini.
Sebagai contoh, pemikir muslim Hasan Hanafi dengan konsep kiri Islamnya, telah mencoba menawarkan paradigma baru dalam ajaran pokok Islam, yakni Tauhid. Konsep atau ajaran Tauhid yang hanya dipandang dan dilekatkan pada ke-Esaan Tuhan perlu dirubah dan diperluas sebagai suatu konsep ketauhidanmakhlukNya sehingga akan terbentuk pola kehidupan umat yang seimbang antara ritual dan sosial, lahir dan batin, dunia dan akherat. Sehingga umat dapat melaksanakan tugas dan fungsinya di dunia dengan baik. Dan masih banyak lagi bidang-bidang yangperlu adanya pengembangan paradigma baru.

Berdasarkan deskripsi perkembangan aliran filsafat ilmu yang berpengaruh tersebut di atas, kiranya dapat dikemukakan beberapa catatan. Pertama, bahwa apa yang dikemukakan oleh Thomas Kuhn adalah sebagai suatu pengungkapan sejarah perkembangan sains yang secara analitis dapat diketahui secara pasti kategoris-kategoris yang terkandung dalam suatu pilihan objek perkembangan sains itu sendiri. Dari segi metodologis apa yang dikemukakan oleh Thomas Kuhn tersebut dapat menambah pemahaman kita tentang suatu proses perkembangan ilmu pengetahuan dalam hal ini sains secara revolusioner dengan paradigma sebagai citra pencarian kebenaran.

Kedua, sumbangan terbesar Thomas Kuhn di bidang disiplin ilmu lainnya adalah tawaran suatu telaah baru terhadap ketatnya konstruksi metodologi. perspektif paradigma baru dalam menatap persoalan suatu disiplin ilmu tidak juga memunculkan persoalan-persoalan mendasar untuk ditelaah. Dalam hal ini penulis mendukung adanya kebebasan untuk secara berani menelaah perkembangan disiplin ilmu dan implementasinya terhadap masyarakat.

Ketiga, Indonesia saat ini sedang dilanda krisis multi dimensional, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai persoalan hidup yang kompleks dan tak kunjung terselesaikan. Pendekatan secara sistematik masing-masing disiplin ilmu kiranya tidak cukup untuk mengatasi multi krisis tersebut.

Dimensi paradigma baru yang mampu menciptakan keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu tanpa harus kehilangan jati diri masing-masing dalam bentuk lahirnya sebuah terapi ilmiah baru guna memecahkan berbagai krisis tersebut. Telaah alternatif yang dikemukakan oleh Thomas Kuhn tersebut di atas kemungkinan bisa dijadikan solusi bagi pencapaian tujuan yang dimaksud tidak terkecuali displin ilmu hukum.

BAB III. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan :

1. Paradigma adalah cara memandang sesuatu & merupakan model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari moel, pola, ideal tersebut fenomena dipandang dan dijelaskan. Secara singkat pengertian pradigma adalah Keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena).

2. Paradigma Kuhn.

Kuhn berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu bersivat relatif. Yakni bahwa ilmu pengetahuan dapat berubah dan berkembang mengikuti zaman. Setelah apa yang dipahami manusia pada masa lalu mengenai ilmu pengetahuan dapat berbeda dengan masa sekarang dan masa yang akan datang, karena dimungkinkan adanya pandangan bartu dan penemuan baru.

3. Awal munculnya Paradigma Kuhn (Epistimologi paradigma Kuhn)

Pada masa itu paham yang dianut masyarakat adalah paham komunis. Seiring berjalannya waktu diketemukan kekurangan / kesalahan dalam paham yang dianut, maka orang-orang mencari paham baru (paradigma baru), masa ini oleh Kuhn disebut masa krisis, kemudian terjadilah revolusi / perubahan.

Hingga pada akhirnya Kuhn mengemukakan pendapatnya bahwa ilmu pengetahuan itu relatif, dan oleh karena itu pula Kuhn diberi julukan ”Tokoh Relativis”.

DAFTAR PUSTAKA

http://adikke3ku.wordpress.com/2008/05/19/aksiologi-ilmu/

http://adikke3ku.wordpress.com/2008/05/19/aksiologi-ilmu/ – _ftn3

http://cacau.blogsome.com/2008/01/08/filsafat-ilmu/

http://des.emory.edu/mfp/Kuhnsnap.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Kuhn

http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi

http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Epistemologi

http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan/

http://www.anova.org/bio/kuhn.html

http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-35.html

Jujun S. Suriasumantri. 1987. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. PT Intermasa. Jakarta.

Soetriyono, MP., Prof. Dr. Ir. dan Dr. Ir. SRDm Rita Hanafie, MP. 2007. Filsafat Ilmu adn Metodologi Penelitian. CV ANDI OFFSET. Yogyakarta.

Tik Smanta Plg

Januari 6, 2009


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:973413670; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1118337612 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:216.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:252.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:288.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:324.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;}

PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN TIK

TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS

STUDI KASUS DI SMA

SMA NEGERI 3 PALEMBANG

OLEH :

WHITA AYU MARDIA 20082013022

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN – PROGRAM PASCASARJANA – UNIVERSITAS SRIWIJAYA – PALEMBANG

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sesuai yang tercantum dalam PP nomor 19 tahun 2005. KTSP merupakan kurikulum penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pemerintah menetapkan standar kompetensi dalam KTSP yang berkaitan dengan perencanaan, konten atau isi dan juga pelaksanaan pendidikan, termasuk didalamnya ditetapkan adanya mata pelajaran TIK.

Pembelajaran TIK yang diterapkan bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi peserta didik sekaligus dalam usaha mensejajarkan pendidikan dengan perkembangan teknologi dan era globalisasi. Kesejajaran, kesinambungan dan seiting sejalannya pendidikan dengan teknologi sebagai salah satu indikator perkembangan pendidikan, yang berkorelasi dengan harapan semakin berkembang dan meningkatnya kompetensi sumberr daya manusia masyarakat Indonesia.

Penerapan kurikulum KTSP pada mulanya memerlukan proses dan penyesuaian termasuk terhadap pengadaan / pelaksanaan mata pelajaran TIK. Mengingat mata pelajaran TIK memerlukan sarana dan prasarana pendukung yang cukup banyak. Pemerintah memberikan dukungan demi terlaksanya program pebelajaran TIK dengan mengupayakan penyediaan unit-unit komputer disekolah-sekolah. Upaya pengadaan sarana TIK berupa unit komputer tersebut dilakukan pemerintah secara besar-besaran pada tahun 2008. tidak hanya itu, pemerintah pusat bersama dengan pihak Dinas Pendidikan membantu dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa silabus.

Depdiknas pada tahun 2008 mengembangkan Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Seperti yang pernah dijelaskan pada makalah kelompok kami sebelumnya bahwa kebijakan pemanfaatan TIK dalam bidang pendidikan ini dimulai dari tingkat yang dianggap lebih siap yakni pada tingkat perguruan tinggi / Universitas dan kemudian pada tingkat SMA / SMK atau sederajat, SMP dan hingga pada akhirnya sekarang sudah merambah ke jenjang pendidikan sekolah dasar. Kemudian juga dimulai dari sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan hingga mulai merambat ke arah pedesaan. Kesiapan ini dilihat dari ketersediaan saran dan prasarana penunjang, seperti tenaga pengajar, akses listrik dan lain sebagainya. Pada sekolah-sekolah yang telah dianggap lebih maju, dan kebanyakan berlokasi di kawasan perkotaan, selain tersedianya laboratorium komputer, beberapa sekolah telah melengkapi dengan jaringan internet (hotspot), bahkan sekolah sudah menyiapkan sarana lainnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu berbagai media elektronik lainnya.

Proses perkembangan kemajuan dalam penerapan TIK tersebut hingga saat ini masih tetap dan terus menerus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Untuk dapat mengetahui keadaan sebenarnya dan melihat secara langsung keadaan pelaksanaan pembelajaran TIK di sekolah-sekolah khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk itu akan dibahas TIK di SMA Negeri 3. pilihan dijatuhkan pada SMA Negeri 3 karena sekolah ini berada di tengah kota, pada lokasi yang sangat strategis dan berada di pinggir jalan utama kota.

Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dapat diidentifikasi beberapa masalah berkaitan dengan mata pelajaran dan pembelajaran TIK dalam dunia pendidikan, yang kemudian batasi pada pembelajaran TIK di SMA Negeri 3 Palembang

Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan pembelajaran TIK, kendala yang dihadapi dalam pembelajaran TIK dan elengkapan sarana dan prasarana penunjang pembelajarran TIK di SMA Negeri 3 Palembang.

PEMBAHASAN

Sarana dan Prasarana TIK

Sarana dan prasarana TIK yang dimaksud adalah sarana dan prasarana penunjang dalam pembelajaran TIK di sekolah-sekolah yang kami observasi. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi diperoleh data sebagai berikut.

Tabel sarana dan prasarana sekolah

No.

Komponen Sarana dan Prasarana

SMA N 3 PLG

1

Jumlah Komputer:

a. Ruang TU

7

b. Ruang GSG

1

c. Ruang Perpustakaan

9

d. Ruang KepSek

e. Ruang Lab.Komputer

20

f. Ruang Lab.

1

g. Ruang Multimedia

1

h. Ruang Kelas

i. Ruang guru

4

2

Jumlah Laptop

8

3

Kurikulum

Diknas

4

Modul

Sekolah

5

Media Penunjang

LCD, Printer (20 bh), Fotocopy, Big Screen, DVD, Radio, CD Interaktif.

6

Wireless

Speedy

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa dari segi kelengkapan sarana dan prasarana TIK di SMA Negeri 3 sudah mencukupi, walaupun tidak menutup kemngkinan untuk penambahan lagi, terutama kelengkapan bagi kegiatan pembelajaran siswa. Karena dari data tersebut, diketahui untuk laboratorium komputer yang digunakan sebagai ruang belajar siswa hanya terdapat 20 komputer. Sesungguhnya jumlah tersebut adalah jumlah standar bagi sekolah-sekolah namun akan lebih baik jika jumlah tersebut lebih banyak lagi disesuaikan dengan jumlah siswa perkelas.

Kegiatan Pembelajaran TIK

Mata pelajaran TIK yang dilakukan di SMA Negeri 3 Palembang pada dasarnya sama dengan disekolah lain. Kegiatan pembelajaran TIK yang diterapkan mengacu kepada kurikulum dari pusat yang kemudian dikembangkan lagi oleh pihak sekolah. Sekolah setiap minggunya untuk setiap kelas dialokasikan 2 jam pelajaran per minggu untuk pembelajaran TIK.

Berhubungan dengan jumlah komputer yang ada di laboratorium yaitu 20 unit komputer, hal ini berpengaruh pada kegiatan pembelajaran siswa. Sedangkan jumlah minimal siswa dalam satu kelas adalah 32 orang siswa maka jumlah komputer tersebut tidak mencukupi untuk setiap siswa, sehingga pada saat kegitaan pembelajaran, sebagian siswa bergabung dengan temannya, jadi satu komputer untuk 2 orang. Disatu sisi situasi ini membantu, dalam artian, siswa dapat bekerjasama saling memberitahu, mengajari dan mengingatkan. Namun di sisi lain, dengan bersama-sama demikian ada kecenderungan bila salah satunya tidak bisa atau salah satunya mendominasi, maka teman yang lainnya hanya menjadi penonton.

Tenaga pengajar pelajaran TIK di SMA Negeri 3 Palembang ada 3 orang guru, 2 orang berstatus honor dan 1 orang PNS. Ketiga orang pengajar tersebut merrupakan lulusan Komputer, bukan lulusan pendidikan komputer dengan latar belakang pendidikan (guru).

Kendala yang Dihadapi dalam Pembelajaran TIK

Kendala-kendala yang dihadapi di sekolah terkait dengan proses pembelajaran TIK di SMA Negeri 3 Palembang, antara lain: Secara fisik, kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya jumlah unit komputer bagi pemebelajaran siswa, namun saat ini SMA Negeri 3 Palembang sedang dalam tahap pembangunan yang juga direncanakan untuk dibangun satu ruang laboratorium komputer. Secara teknis, guru mata pelajaran TIK di sekolah ini mengaku kekurangan teknisi yang diharapkan dapat membantu dalam pemeliharaan perangkat multimedia yang ada. Bukan berarti selama ini tidak ada pemeliharaan, pemeliharaan tersebut ada dan dilakukan satu bulan sekali. Namun menurut mereka akan lebih baik bila ada teknisi yang selalu siap siaga setiap hari memantau dan memelihara juga membantu menangani masalah-masalah teknis pembelajaran TIK.

Selain dari pada masalah teknisi, juga menjadii masalah mengenai kekurangan tenaga pengajar, yang dimaksudkan oleh para guru, mereka berharap dalam pelaksanaan pembelajaran mereka mempunyai tim mengajar, yang hingga saat ini belum memungkinkan mereka untuk melakukannya dengan jumlah guru yang ada yaitu 3 orang. Harapannya bila mereka ada tim mengajar atau asistem pada saat mereka kegiatan pemebelajaran berlangsung, mereka (guru) jadi tidak kewalahan. Karena pembelajaran TIK ini sifatnya praktek, maka akan menemukan kesulitan bila guru pendampingnya hanya satu orang, satu siswa bertanya, siswa yang lain juga bertanya, dan seterusnya.

III. KESIMPULAN

Secara umum kegiatan pembelajaran TIK di SMA dalam pelaksanaannya sama. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada silabus dari diknas dan kemudian dalam penerapannya dikembangkan oleh pihak sekolah khususnya guru mata pelajaran TIK yang mengajar.

Kendala yang dialami oleh pihak sekolah secara garis besar adalah: Jumlah (ketersediaan) guru yang kurang mencukupi. Harapannya bila semakin banyak guru maka dapat dilakukan team teaching, sehingga bisa lebih mudah mengakomodir pertanyaan siswa, terutama pada saat praktek.